Ruzan menghela nafas panjang. Tatapannya menerawang ke luar jendela bis yang membawanya pergi menuju kampung halaman. Hanya untuk mencari ketentraman dan ketenangan batinnya yang selama ini ia rasakan begitu menyesakkan dada. Sudah beberapa hari lamanya ia begitu merasakan kesempitan yang begitu kentara menguasai seluruh relung hatinya. Rasa hampa yang semakin menderanya, setelah percakapannya dengan Fatan, sahabat yang ia anggap bukan hanya sebagai seorang sahabat saja, tetapi juga sebagai…ah! Ia muak untuk mengatakannya.
“Ruzan! Aku sadar apa yang selama ini kita jalani adalah hal yang paling bodoh dan nista untuk hidup sebagai hamba yang mengaku bertuhan”ujar Fatan suatu senja. Saat itu mereka berdua tengah menikmati suasana sore dari teras kosan mereka.
Mereka sama-sama sebagai perantau, bekerja di pabrik tekstil milik seorang peranakan cina. Ruzan dari Garut, sementara Fatan dari Kalianda. Mereka sama-sama merantau ke ibukota dengan tujuan yang sama. Mengadu nasib dan berharap bisa membantu orang tua dan adik mereka yang butuh biaya untuk sekolah.
“Seharusnya kita meyadari bahwa yang kita jalani selama ini adalah kesalahan besar yang tidak seharusnya terjadi.”ujar Fatan lebih lanjut.
“Aku tahu!”seru Ruzan sembari menundukan kepalanya. Ia tak berani menatap mata Fatan. Sebenarnya ia tak ingin dan tak pernah berharap perbincangan ini bakalan terjadi.
“Aku tak ingin menjadi makhluk terkutuk layaknya kaum Luth itu.” Ujar Fatan dengan nada yang semakin tajam. Ruzan terdiam. “Dan aku ingin mengakhiri semua itu dengan…” Fatan tersenyum dengan mata yang menerawang awan gemawan yang berarak di langit selatan,”ya, aku mencoba untuk menjalin hubungan yang serius dengan adik kelasku waktu SMP dulu.”
Ruzan tak mampu menatap Fatan. Yang ia tahu hatinya semakin membuncah dengan gemuruh kekecewaan.Panas di hatinya seakan-akan menjalar dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Ia kesal, marah, malu, sedih, dan merasa tak berguna lagi sebagai manusia. Ia benci dengan kenyataan yang ada, semua kenyataan yang ia terima ;kenyataan fatan menyukai adik kelasnya dan mungkin tak akan lama lagi akan kawin, kenyataan bahwa ia tak akan lagi menemukan Fatan sesuai dengan apa yang ia harapkan, kenyataan bahwa ia abnormal, kenyataan bahwa ia tak bisa seperti Fatan. Uh! Kalau seandainya waktu bisa diputar dan nasib bisa ditawar, mungkin Ruzan lebih memilih untuk tidak dilahirkan di dunia saja dan tidak punya eksistensi apa-apa di dunia ini. Tapi apa gunanya berandai-andai dengan takdir? Emaknya pernah bercerita bahwa itu dilarang oleh Gusti Allah dan bisa membuat kita gila. Dan memang keyataannya ruzan hampir setengah gila dengan memikirkan hal ini. “Jangan kau salahkan takdir dan jangan kau berandai-andai dengan takdir yang masih abu-abu. Yang harus kau lakukan adalah merubah semua itu dan bertawakal kepada Gusti Allah dengan segenap usahamu yang maksimal. Yakinlah bahwa Gusti Allah akan merubah keadaan hambanya jika hamba itu sungguh-sungguh dalam pengharapannya. Karena Dia Maha Mendengar doa hamba-hambaNya.” Kata-kata berpetuah itu keluar dari mulut emaknya saat ia mengeluh dan merengek karena tidak dibelikan sepatu baru pada tahun ajaran baru sekolah. Padahal Ruzan sudah sepenuh asa untuk membahagiakan kedua orang tuanya dengan nilai-nilai rapornya yang diatas rata-rata. Ruzan berharap oarng tuanya kan senang dan terbujuk untuk membelikannya sepatu baru. Tapi apa daya, orang tuanya hanyalah buruh tani biasa yang tak pernah punya uang lebih. Tapi emak dan bapaknya selalu berpikir optimis dalam kehidupan mereka yang serba sulit. Tanpaknya nasihat emak dulu masih juga menjadi cambuk ampuh untuk membangunkan hatinya yang terlelap dalam kegelapan yang selama ini ia jalani.
“Kenapa kau terdiam seperti itu?” Tanya Fatan dan menatapnya tajam. Ruzan terperanjat dari lamunannya. “Kau tidak menerima kenyataan ini?” selidik Fatan dengan suara yang lebih tinggi. “kau tak rela aku berubah dari semua ketololan ini?”
Ruzan tersenyum sinis dan menggeleng lemah. Kemudian tertawa sumbang, “tidak! Selamat sahabatku. Kau berhak memilih jalanmu. Aku akan berusaha untuk senang mendengarnya.”
Fatan menghela nafas panjang.
Sementara Ruzan semakin merasakan gejolak di hatinya. “tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan” serunya sembari membalikan tubuhnya. Ia menerawang lelangit senja yang mulai berpoles jingga.” Aku tak bisa menemukan jalanku. Aku iri kepadamu Fatan, kenapa kau bisa berubah sementara aku tidak?”
”Apa kau bilang?” serunya dengan alis tebalnya yang nyaris bertautan.”perubahan itu karena keinginan kita sendiri untuk berubah. Bukan karena dating sendiri. Camkan itu!” Ruzan terdiam. “Aku selalu mendoakanmu.” Pungkas Fatan dan masuk ke dalam kosan, sementara Ruzan menyusul dari belakang.
*****
Ruzan memperhatikan Fatan yang tengah mengepak pakaian dan barang-barangnya ke dalam koper. Yang tersisa hanyalah sebuah lemari yang kini kosong melompong. Besok Fatan akan pulang ke kampungnya demi menuruti permintaan ibunya. Fatan dijodohkan dengan anak pamannya sekaligus adik kelasnya.
“Kau yakin akan pulang besok?”
“Ya.”jawab Fatan pendek. Tangannya sibuk memasukan helai demi helai pakaiannya.
“Bukannya pemuda seusiamu masih terlalu muda untuk menikah?”
Fatan berhenti sejenak dan menatap Ruzan.”apa salahnya?”
Ruzan kembali terdiam. “Daripada aku terus berkubang dalam ketololan seperti itu. Maaf jika kau merasa tersinggung.” Ujar Fatan dengan nada tajam.
Ruzan tahu Fatan marah dengan pertanyaannya.” Ya, maafkan aku. Sepertinya aku harus bangga dengan keberuntunganmu itu.”
“Ya, aku memang beruntung bisa sadar dari kebodohanku. Tapi kau akan lebih beruntung dariku jika kau berhenti mencintaiku layaknya….”
“DIAM!!” seru Ruzan dengan tatapan penuh amarah.
Fatan terperanjat ketika dilihatnya Ruzan berlari dan berkata.” Lebih baik aku mati saja.”
*****
Ruzan menyingkapkan gorden jendela bis disampingnya. Matahari telah sepenggalah tingginya dan ia bisa merasakan kehangatan sinarnya. Sehangat ketentraman yang kini dimiliki hatinya. Sehangat rasa tenang yang menggelora di segenap rongga dadanya. Ruzan yakin, rasa bahagia itu akan begitu purna ketika ia bisa melihat wajah keriput emaknya yang selalu tersenyum ikhlas dikala ia pulang. Wajah adik-adiknya yang tersenyum sumringah melihat oleh-oleh alakadarnya yang ia bawa. Dan sapaan tulus Haji Romli, guru ngaji semasa kecil di surau dulu. Ah, Ruzan tak sabar untuk segera menjejakan kaki di kampung halamannya.
Sekali lagi Ruzan menghela nafas panjang. Benar katamu Fatan, aku akan lebih beruntung darimu jika aku menyadari bahwa selama ini jalan hidup kita salah.
Kembali berkelebat kejadian dua hari yang lalu dalam pikirannya. Tepat sebelum Fatan pulang. Ketika itu Ruzan menunggu kereta fajar utama melintas di dekat rumah kosannya. Ketika didengarnya suara itu semakin mendekat ia berlari dari kosan menuju rel dan merentangkan tangan menantang malaikat maut –yang mungkin- siap mencabut nyawanya. Ia pejamkan matanya, menunggu detik demi detik yang seakan memakan ketakutannya.
Beberapa detik setelah itu, Ruzan merasakan sebuah terjangan. Tapi ia berharap itu hanya perasaannya saja. Karena yang ia rasakan bukanlah hantaman kereta api seperti yang ia harapkan, tapi justru ia merasakan sekelebat sosok menubruknya dari samping secara tiba-tiba, hingga membuatnya berguling-guling di semak belukar yang landai.
Ruzan memicingkan kedua matanya.
“GILA!! KAU SUDAH GILA RUZAN!!” Sebuah suara yang mencoba mengalahkan suara kereta kembali mengumpulkan segenap kesadarannya.
Ruzan terengah-engah dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Ia baru merasakan andrenalin yang memuncak seperti saat itu. Sementara ia melihat Ftan dengan ekspresi yang sama sepertinya.
”kau gila Ruzan!”
“kenapa kau merusak rencanaku!”
Fatan tak merespon dan sibuk mengatur nafasnya yang memburu.
Jangan sekali-kali kamu menantang maut lagi Ruzan!” ujar Fatan. Sementara di tangannya terdapat kopor yang membengkak karena disesaki barang-barang.
Ruzan tersenyum hambar,” aku juga akan pulang.”
“Kapan?”
“Besok.”
“Dan kamu kan meninggalkan pekerjaanmu seperti halnya diriku?”
“Tidak. Aku hanya ingin pulang unutk sementara.”
Fatan hanya tersenyum kecil .” tapi aku berharap kamu akan berubah Ruzan.”
Entah yang keberapa kalinya Ruzan mendengar kalimat yang sama meluncur dari mulut Fatan. Yang pasti, akhir-akhir ini Fatan selalu mengucapkan kata-kata itu dan Ruzan selalu menanggapinya dengan setengah hati. Tapi tidak, sejak kejadian kemarin dia mulai menyadari kegelapan yang menyelimuti hatinya. Dan perlahan kegelapan itu mulai tersingkap juga. Awalnya Ruzan takut Fatan akan membencinya dan tidak mempedulikannya karena dia belum berubah. Tapi rupanya anggapan Ruzan salah besar. Fatan telah membuktikan bahwa dia adalah seorang sahabat yang mempunyai hati yang ikhlas. Bukan hati yang dipenuhi nafsu angkara sebagaimana hatinya. Setidaknya hal itu sudah cukup bagi Ruzan ketika Tuhan menjadikan Fatan sebagai perantara_Nya menyelamatkan nyawanya kemarin sore.
“Aku tetap sahabatmu Ruzan. Dan memang seharusnya kita hanya sebagai sahabat karib.”
Ruzan tersenyum dan menganggukan kepalanya.
******
“Prabumulih! Prabumulih!” seru sang kondektur membuyarkan lamunan dan kantuk yang mendera para penumpang. Pun dengan Ruzan. Ia tergeragap dari kantuknya dan langsung berseru. “KIRI! KIRI!”
Bus berhenti tepat di pertigaan jalan berbatu yang mengarah ke kampong ruzan. Ruzan turun dari bus dan menyampirkan tasnya di bahu sebelah kiri.
“Ojeg kang?”tawar seorang tukang ojek.
“Bade ka mana?” (mau ke mana?) tukang ojek yang lainnya menawarkan jasa.
Ruzan menampik tawarannya. Tak perlu repot-repot naik ojek untuk sampai ke rumahnya. Baginya jarak satu kilometer bukanlah jarak yang terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Lagi pula ia ingin merasakan suasana kampung yang sudah dua tahun ini ia tinggalkan. Ia ingin merasakan udara pagi yang menguarkan aroma jerami basah dari sawah-sawah sepanjang jalan. Dan ia paling suka mengenang masa kecilnya dengan aroma sederhana itu. Ruzan mendengar kicau burung kenari yang sedang berloncatan di dahan pohon-pohon randu. Burung-burung jantan sedang berebut betina karena saatnya kawin. Sepasang burung itu tiba-tiba melintas tepat dihadapan Ruzan. Ya allah, burung pun terbang berpasangan. Betapa jauhnya hamba dari tanda-tanda kebesaran-Mu selama ini. Sementara ia menikmati kicauan burung kenari itu hingga tak terasa sudah menjejak halaman rumah panggungnya. Senyum tulus wajah keriput emak sebentar lagi akan menyambutnya.
Cibeureum , 28 April 2014
Untuk kedua sahabatku ER dan AZZ yang telah menemukan jalan hidupnya. Tetaplah istiqomah dan menjaga ukhuwah
sumber: http://horisononline.or.id
Kategori: Cerpen Diterbitkan: Senin, 25 Agustus 2014 Ditulis oleh Husni Mubarok
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Tuesday, 2 September 2014
Thursday, 1 May 2014
Yang Terlewatkan
Memangnya benar ya seperti ini? Aku tidak terlalu peduli dengan ucapannya. Tapi, sepertinya aku termakan oleh omonganku sendiri. Terlalu bodoh aku berpikir waktu itu. Aku merasakan hal itu semua, ketika ku tlah banyak kehilangan temanku.
Aku tidak peduli dengan mereka, ku tak menjaga pertemananku dengan mereka, dan ku terlalu sibuk dengan duniaku. Ketika ku tahu ini semua telah terjadi, apa yang bisa ku perbuat? Aku tak punya daya apa-apa. Aku kehilangan mereka. Aku ingin memutar masa lalu. Kalau aku bisa, aku ingin me-pause masa indah itu, walaupun tidak banyak masa indahku bersama temanku. Ya, karena mungkin aku menganggap mereka orang lain, tak lebih dari itu, teman pun tidak. Maka ketika ku temukan masa laluku saat ku bercanda dengan “teman” ku, aku ingin me-pause-nya. Aku ingin menikmati bagian itu lebih lama.
Tak banyak harapan untuk memperbaiki hal ini. Karena aku juga tidak tahu, apakah teman-temanku peduli denganku? Ataukah mereka tidak peduli denganku, sama halnya aku tidak peduli dengn mereka waktu itu? Hukum kausalitas ternyata benar-benar ada.
***
Aku kini terbaring diranjang putih. Ranjang ini begitu sempit untukku, karena tak terbiasa dengan keadaan ini. Ranjang yang sebenarnya cukup menjadi terlalu kecil.
***
Aku kini terbaring diranjang putih. Ranjang ini begitu sempit untukku, karena tak terbiasa dengan keadaan ini. Ranjang yang sebenarnya cukup menjadi terlalu kecil.
Ruangan ini terlalu sesak buatku. Sulit rasanya mencari oksigen di tempat ini. Jarum suntik berulang kali ditusukkan ke lenganku. Hanya untuk mencari denyut nadi dan memasukkan selang infuse ke lenganku. Sakit. Perih. Sesak. Ganjal. Aku telah rasakan ini semua.
Sejak hari pertama, sampai sekarang enam bulan lamanya, aku tak menjumpai banyak orang. Enam bulan ini, aku hanya bertemu dengan dokter, suster, ayah, ibu, dan kakakku. Ya, hanya lima orang itu saja yang aku jumpai. Sesekali juga kerabat dari ayah atau ibu datang melihatku. Itupun tak setiap hari. Jadi, kupastikan hanya lima orang saja yang terlihat oleh mataku.
Pernah ibuku bertanya, “ Teman-temanmu apa tidak tahu keadaanmu, Han? Teman Kak Aden saja menengokmu, masa temanmu tidak?” Dan aku hanya bisa menjawab dengan hembusan napas. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Enam bulan setelah kecelakaan itu, satu semester pula aku tidak bertemu dengan temanku. Satu semester, terlalu lama untukku. Teman. Kata yang sering ku dengar. Tapi, asing dihatiku. Aku butuh mereka, dan aku menyadari itu. Kenapa aku sadar setelah ku tahu mereka juga tidak peduli dengan kehadiranku?
Tak terasa butiran air mata mengalir tanpa bisa ku kendalikan. “ Kenapa Raihan?” tanya ibuku. Aku pegang tangan ibuku. Kuletakkan telapak tangan ibuku di pipi kananku. Ku cium tangannya. Semakin tak terbendung air mataku. Ibu mencium keningku. “ Semua akan baik-baik saja Raihan. Kamu hanya butuh keberanian untuk meminta maaf dengan mereka.”
***
Pintu kamar diketuk dari luar. Ibuku membukakan pintu. Aku tak tahu siapa yang datang. Tapi, ibu tampak bicara dengan seseorang atau lebih tepatnya beberapa orang di luar sana, aku tidak tahu pasti berapa. Dari gerak tubuhnya, ibu tampak senang, saat dia membalikkan badan dan bilang, “ Raihan, lihat siapa yang datang?” dan ibu mempersilakan mereka masuk.
Tak terasa butiran air mata mengalir tanpa bisa ku kendalikan. “ Kenapa Raihan?” tanya ibuku. Aku pegang tangan ibuku. Kuletakkan telapak tangan ibuku di pipi kananku. Ku cium tangannya. Semakin tak terbendung air mataku. Ibu mencium keningku. “ Semua akan baik-baik saja Raihan. Kamu hanya butuh keberanian untuk meminta maaf dengan mereka.”
***
Pintu kamar diketuk dari luar. Ibuku membukakan pintu. Aku tak tahu siapa yang datang. Tapi, ibu tampak bicara dengan seseorang atau lebih tepatnya beberapa orang di luar sana, aku tidak tahu pasti berapa. Dari gerak tubuhnya, ibu tampak senang, saat dia membalikkan badan dan bilang, “ Raihan, lihat siapa yang datang?” dan ibu mempersilakan mereka masuk.
Aku tak tahu harus bagaimana saat ku lihat siapa yang datang. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Apakah aku sedang mimpi? Atau mataku yang salah lihat? Aku tahu, bahwa saat ini aku sangat bahagia. Sangat sulit aku menggambarkan perasaan ini. Mereka menemuiku, tersenyum padaku. Aku tak menyangka akan mendapat moment ini. Tuhan, aku sangat berterimakasih padaMu.
“ Maaf ya Han, kita baru bisa jenguk kamu sekarang. Pasti kamu kesepian di sini?” Andy, ketua kelas memulai pembicaraan.
“ Gimana Han, keadaanmu sekarang?” Bara bertanya kepadaku. Ku katakan kalau aku sudah bosan, di ruangan yang serba putih ini. Aku bosan melakukan terapi untuk pemulihan tulang kakiku karena kecelakaan. Aku juga bosan melihat botol infuse yang menggantung di atas ranjangku.
“ Sebenarnya aku sudah meminta untuk dirawat di rumah saja. Tapi gak tahu kenapa, dokter belum mengijinkan aku beranjak dari ranjang pesakitan ini. Kayaknya ada yang disembunyikan dariku. Ah, tak usahlah terlalu dipikir. Nikmati aja, ya gak?”
Dan pembicaraan ini serasa hangat kurasakan. Saat aku tahu bahwa mereka juga rindu akan kehadiranku yang dingin dan acuh di kelas.
“ Apa sikap seperti itu yang membuat kalian merasa kehilanganku?” tanyaku.
“ Iya Han, soalnya kamu itu langka. Hahaha.” Kata Mita. Dan disambut tawa oleh teman-temanku yang lain. Aku larut dengan suasana ini, ternyata aku juga bisa tertawa lepas dengan mereka. Hal yang tidak pernah aku lakukan selama dua tahun aku bertemu dengan mereka.
“ Han, kita sudah hampir menerima rapor kenaikan kelas tiga. Doakan ya Han, semoga kita semua naik kelas.” Andy berkata dengan hati-hati. Mungkin takut menyinggungku. Teman yang lain diam. Akupun diam. Aku tersenyum, dan kubilang “ Oke, I wish the best for you, my friends.” Dan itu artinya aku telah benar-benar kehilangan mereka. Aku harus mengulang satu tahun lagi di kelas dua SMA.
" Han, maafkan kita ya Han. Kita gak pernah menengokmu, sekali menengok, kita ngasih kabar kayak gini.” Bara, temanku yang lain menimpali.
“ Kenapa harus kalian yang meminta maaf. Aku yang harusnya minta maaf. Tidak peduli dengan kalian. Menganggap kalian orang asing. Padahal akulah orang asing itu. Kalian harus semangat untuk kelas tiga besok.”
“ How about you, Han?” Jeane, bertanya kepadaku.
“ I will be ok. Akan aku bayar waktu kelas dua ini setahun lagi. Mungkin aku akan menyusul kalian lulus SMA, setelah kalian lulus duluan. Itu tidak sulit. Karena aku hanya mengikuti jejak kalian yang ada di depanku. Hehehe.”
“ Ada-ada saja kamu Han.” Dan seisi ruangan tertawa. Ini tawa yang kedua kali aku dengar.
Ku lihat sekelilingku. Teman-temanku masih disini. Ibuku duduk melihatku. Ibu tersenyum. Ku balas senyum ibuku. Aku juga melihat ayah dan kakakku baru datang. Kakakku yang baru kuliah dan ayah yang baru pulang kerja terlihat capek. Kasihan mereka harus seperti ini setiap hari. Ayah dan kakakku mendekatiku. Aku mencium tangan ayahku. Kakak, seperti biasa, mengusap rambutku dan menarik hidungku. Ya, agak norak memang. Mungkin itu ungkapan sayang kepadaku.
***
Abu-abu. Kenapa? Adakah yang salah? Kenapa menjadi abu-abu ruangan ini? Mereka tak terlihat jelas. Tapi di sana. Di sana ada ibuku. Aku ingin memanggilnya. Tapi aku tak sanggup melakukannya. Aku hanya melambaikan tanganku yang lemah. Tak lama ibuku datang. Semua orang panik. Dan ibuku menangis. Tak tampak jelas memang, tapi aku bisa mendengarnya. Aku hanya bisa tersenyum. Aku bahagia, di saat seperti ini, aku dapat merasakan kehadiran mereka semua. Ibu, ayah, kak Aden, teman-temanku, walau tak semua teman kelasku di sini. Aku bahagia. Sangat bahagia. Dan di saat dunia terlihat gelap, dan aku menutup mataku, aku masih mendengar mereka menangis. Maaf. Kata itu yang terlewat, terutama untuk ibu.
Ku lihat sekelilingku. Teman-temanku masih disini. Ibuku duduk melihatku. Ibu tersenyum. Ku balas senyum ibuku. Aku juga melihat ayah dan kakakku baru datang. Kakakku yang baru kuliah dan ayah yang baru pulang kerja terlihat capek. Kasihan mereka harus seperti ini setiap hari. Ayah dan kakakku mendekatiku. Aku mencium tangan ayahku. Kakak, seperti biasa, mengusap rambutku dan menarik hidungku. Ya, agak norak memang. Mungkin itu ungkapan sayang kepadaku.
***
Abu-abu. Kenapa? Adakah yang salah? Kenapa menjadi abu-abu ruangan ini? Mereka tak terlihat jelas. Tapi di sana. Di sana ada ibuku. Aku ingin memanggilnya. Tapi aku tak sanggup melakukannya. Aku hanya melambaikan tanganku yang lemah. Tak lama ibuku datang. Semua orang panik. Dan ibuku menangis. Tak tampak jelas memang, tapi aku bisa mendengarnya. Aku hanya bisa tersenyum. Aku bahagia, di saat seperti ini, aku dapat merasakan kehadiran mereka semua. Ibu, ayah, kak Aden, teman-temanku, walau tak semua teman kelasku di sini. Aku bahagia. Sangat bahagia. Dan di saat dunia terlihat gelap, dan aku menutup mataku, aku masih mendengar mereka menangis. Maaf. Kata itu yang terlewat, terutama untuk ibu.
Kartasura, 29 Mei 2013
O9:43 pm
O9:43 pm
Say Hai to Meka
“AAAAAAA!!!!!!!!!!!”
“Tuhan!!! Kenapa Kau lakukan semua ini padaku?! Apa kurang aku bersujud menyembah kepadaMu?! Apa perlu aku selamanya bersujud di sajadah suciMu?! Apa perlu aku membungkuk setiap detik untukMu? AAA!!! Tuhan!!! Kenapa Tuhan Kenapa?”
Air mataku menetes.
“Tuhan!!! Kenapa Kau lakukan semua ini padaku?! Apa kurang aku bersujud menyembah kepadaMu?! Apa perlu aku selamanya bersujud di sajadah suciMu?! Apa perlu aku membungkuk setiap detik untukMu? AAA!!! Tuhan!!! Kenapa Tuhan Kenapa?”
Air mataku menetes.
----
Sabtu. Hah… Hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak pemuda pemudi. Malam minggu, keluar, hang out, kumpul bareng, dan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan. Tapi malam minggu ini berbeda, aku dan kedua sahabatku, Luna dan Kiki memutuskan untuk pergi ke sebuah konser band malam nanti. Setidaknya hal itu bisa mengalihkan perhatianku pada satu hal tak terlupakan. Kepergian kekasihku yang telah 4 tahun aku sudah menjalin hubungan dengannya. Pergi selamanya. Ryan.
“Kita cari tempat di mana, Me?”, tanya Luna menarik lengan bajuku.
Aku memutar kepalaku ke kanan ke kiri berusaha mencari tempat yang kosong, namun tidak ada. “Gak tau, Lun. Keliahatan penuh banget ini.”
“Disitu aja!”
Tiba-tiba Kiki menunjuk sebuah tempat. Kosong! Akhirnya kami memutuskan untuk berdiri di situ. Tepat pukul 19.00 konser sudah dibuka. Ontime! Tak lama kemudian band utama membuka acara dengan lagu hist mereka. Suasana langsung meriah. Kami berteriak-teriak. Tidak hanya kami, tapi seluruh penonton di stadion ini berteriak sekencang-kencangnya. Sangat kencang.
“Hoi, Rez!!!”
Ada seorang lelaki yang tiba-tiba menyenggol lenganku dan menyapa, tapi “Rez”? Siapa “Rez”?
“Sorry?”, teriaku keras, mengingat suara di stadion ini sangat kencang.
Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berkata, “Kamu Rezki, kan?”
Aku kaget. Rezki? Aku melihat kedua sahabatku di samping kanan. Mereka tertawa kecil.
“Maaf, aku bukan Rezki.”
“Loh… Kamu bukan Rezki?”
Aku menggeleng.
“Kamu bukan Rezki ? Terus nama kamu siapa?”
JEDARRR!!! EAAA!! Ternyata cowok ini pengen kenalan, batinku. Kiki langsung membalikan tubuhku menghadap kearahnya. Kiki dan Luna ketawa-ketawa bodoh.
“Cowok itu ngajak kenalan?”, tanya Kiki antusias, namun tetap dihiasi tertawanya kecil.
Aku mengangguk.
“Norak banget kenalan di tempat beginian, pakai cara salah orang lagi.”, Luna tertawa.
“Dijawab gak kenalannya?”, tanyaku.
Mereka berdua mengangguk mantap.
Aku membalikkan tubuhku lagi. Namun, cowok itu tidak ada. Otomatis kepalaku celingukan mencari-cari dia. Tiba-tiba ada yang mencolek bahu kananku. Cowok itu. <!--break-->
“Nyariin ya?”, tanyanya dengan senyum jahil tersungging di paras tampannya.
Aku hanya tertawa kecil. Cowok ini lucu, tapi sedikit norak juga. Tapi noraknya lucu.
“Jo.” Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya tegas.
Aku membalas uluran tangannya. “Bejo Suminarsih Haryanto Kusumo Negoro, panggilan Jo.”
“Ha?”, tanpa disadar mulutku menganga membentuk huruf O.
Dia tertawa. Lagi. Dan… Manis, lagi. “Bercanda. Jo, Joshua”
Aku tersenyum. “Meka.”
“Kita cari tempat di mana, Me?”, tanya Luna menarik lengan bajuku.
Aku memutar kepalaku ke kanan ke kiri berusaha mencari tempat yang kosong, namun tidak ada. “Gak tau, Lun. Keliahatan penuh banget ini.”
“Disitu aja!”
Tiba-tiba Kiki menunjuk sebuah tempat. Kosong! Akhirnya kami memutuskan untuk berdiri di situ. Tepat pukul 19.00 konser sudah dibuka. Ontime! Tak lama kemudian band utama membuka acara dengan lagu hist mereka. Suasana langsung meriah. Kami berteriak-teriak. Tidak hanya kami, tapi seluruh penonton di stadion ini berteriak sekencang-kencangnya. Sangat kencang.
“Hoi, Rez!!!”
Ada seorang lelaki yang tiba-tiba menyenggol lenganku dan menyapa, tapi “Rez”? Siapa “Rez”?
“Sorry?”, teriaku keras, mengingat suara di stadion ini sangat kencang.
Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berkata, “Kamu Rezki, kan?”
Aku kaget. Rezki? Aku melihat kedua sahabatku di samping kanan. Mereka tertawa kecil.
“Maaf, aku bukan Rezki.”
“Loh… Kamu bukan Rezki?”
Aku menggeleng.
“Kamu bukan Rezki ? Terus nama kamu siapa?”
JEDARRR!!! EAAA!! Ternyata cowok ini pengen kenalan, batinku. Kiki langsung membalikan tubuhku menghadap kearahnya. Kiki dan Luna ketawa-ketawa bodoh.
“Cowok itu ngajak kenalan?”, tanya Kiki antusias, namun tetap dihiasi tertawanya kecil.
Aku mengangguk.
“Norak banget kenalan di tempat beginian, pakai cara salah orang lagi.”, Luna tertawa.
“Dijawab gak kenalannya?”, tanyaku.
Mereka berdua mengangguk mantap.
Aku membalikkan tubuhku lagi. Namun, cowok itu tidak ada. Otomatis kepalaku celingukan mencari-cari dia. Tiba-tiba ada yang mencolek bahu kananku. Cowok itu. <!--break-->
“Nyariin ya?”, tanyanya dengan senyum jahil tersungging di paras tampannya.
Aku hanya tertawa kecil. Cowok ini lucu, tapi sedikit norak juga. Tapi noraknya lucu.
“Jo.” Lelaki itu mengulurkan tangan kanannya tegas.
Aku membalas uluran tangannya. “Bejo Suminarsih Haryanto Kusumo Negoro, panggilan Jo.”
“Ha?”, tanpa disadar mulutku menganga membentuk huruf O.
Dia tertawa. Lagi. Dan… Manis, lagi. “Bercanda. Jo, Joshua”
Aku tersenyum. “Meka.”
---
Sejak saat itu kami berdua mulai saling mengenal. Sering kami pergi berdua, ke bioskop, melihat pameran, dan lain sebagainya. Semakin lama mengenal dia, semakin aku tahu bahwa dia sangat konyol. Ya… Di gila! Tapi gilanya itu yang lucu. Satu moment yang masih aku ingat. Di café, sore hari.
“ Mbak, lemon tea saya mana?”, tanya Jo dengan wajah kecewa.
“Loh… Bukannya tadi sudah diantar, Mas?”, tanya sang pelayan bingung.
Jo menggeleng. “Belumlah, Mbak. Kalau sudah ya saya minum daritadi”
“Oh iya, Mas. Maaf maaf. Akan segera kami antar”
Sang pelayan pun langsung lari mke dapur. Dan ya, Jo semakin lepas tertawa. Dia melihatku jahil dann lalu mengeluarkan lemon teanya dari bawah meja.
“Sial! Kamu jahil Jo!” Aku tertawa.
“Biarin. Sekali-kali ngerjain pelayan fine aja kan?”
Jo tertawa. Dan aku juga. Kami berdua tertawa lepas. Dan saat pelayan lain kembali membawakan minum, Jo malah beracting seolah bingung kenapa ada minuman lagi untuknya. Sontak sang pelayan itupun bingung. Dengan wajah malu dan innocentnya sang pelayan meminta maaf dan kembali pergi. Wajahnya merah. Dia benar-benar malu. Hah… Saat-saat bersama Jo memang tidak pernah membosankan.
“Kamu gak jadian sama Jo?”
Aku menggeleng.
“Me, dia jelas suka sama kamu. Hubungan kamu sama dia aja sedekat ini”, Kiki berkata mantap.
Lagi. Aku menggeleng.
“Segala bentuk kedekatan hubungan itu gak harus selalu berujung dengan cinta. Aku nganggep Jo cuma sahabat.”
“ Mbak, lemon tea saya mana?”, tanya Jo dengan wajah kecewa.
“Loh… Bukannya tadi sudah diantar, Mas?”, tanya sang pelayan bingung.
Jo menggeleng. “Belumlah, Mbak. Kalau sudah ya saya minum daritadi”
“Oh iya, Mas. Maaf maaf. Akan segera kami antar”
Sang pelayan pun langsung lari mke dapur. Dan ya, Jo semakin lepas tertawa. Dia melihatku jahil dann lalu mengeluarkan lemon teanya dari bawah meja.
“Sial! Kamu jahil Jo!” Aku tertawa.
“Biarin. Sekali-kali ngerjain pelayan fine aja kan?”
Jo tertawa. Dan aku juga. Kami berdua tertawa lepas. Dan saat pelayan lain kembali membawakan minum, Jo malah beracting seolah bingung kenapa ada minuman lagi untuknya. Sontak sang pelayan itupun bingung. Dengan wajah malu dan innocentnya sang pelayan meminta maaf dan kembali pergi. Wajahnya merah. Dia benar-benar malu. Hah… Saat-saat bersama Jo memang tidak pernah membosankan.
“Kamu gak jadian sama Jo?”
Aku menggeleng.
“Me, dia jelas suka sama kamu. Hubungan kamu sama dia aja sedekat ini”, Kiki berkata mantap.
Lagi. Aku menggeleng.
“Segala bentuk kedekatan hubungan itu gak harus selalu berujung dengan cinta. Aku nganggep Jo cuma sahabat.”
---
Rabu. 15 Mei 2013. Hari yang sangat melelahkan bagiku. Pagi-pagi aku sudah ke sekolah sampai jam 2. Setelah itu langsung pergi les, pergi seminar, pergi tugas, dan pergi kemana-mana.
“Hah… Capek. Sampai rumah aku pengen mandi, makan, langsung tidur.”
Sesampainya di rumah aku melihat ada 3 motor terparkir di halaman. Motornya familiar dengan ingatanku. Sepertinya aku kenal siapa pemiliknya. Dengan segera aku langsung memasuki rumah. Ruang depan kosong, tidak ada siapa pun, ruang tengah juga kosong, dapur, juga. Dimana semuanya?
“Jadi Meka tidak menyukaimu?”
Ada suara dari halaman belakang. Suara mama?? Perlahan aku berjalan menuju asal suara. Tidak hanya suara mama yang aku dengar, namun ada orang lain. Perempuan dan laki-laki.
“Jo? Luna? Kiki?”, kataku lirih dibalik pintu.
Aku bingung, kenapa mereka disini. Dan bagaimana mama bisa mengenal Jo? Aku tidak pernah mengenalkan Jo kepada mama.
“Kata Meka, dia hanya menganggap Jo sebagai teman, Tan”, Luna menerangkan.
“Iya, Tan. Padahal Jo itu sudah membuat Meka tertawa terus dan mendekati dia. Bahkan Jo sering memberi perhatian lebih kepadanya.”
“Tapi, Meka sama sekali tidak menganggap itu special, Tante.”, Jo memotong pembicaraan Kiki.
“Ya Tuhan… Bagaimana lagi aku harus membuat putriku mendapatkan kebahagiannya lagi? Padahal aku sudah menyuruh seseorang untuk mendekatinya. Sedangkan dia masih saja mencintai kekasihnya yang telah tiada.”
DEG! Aku terdiam. Aku terpaku, mematung disana. Jadi ini semua rekayasa? Mama menyewa Jo untuk ini? Untuk membuatku melupakan cintaku? Ryan…
Aku bingung. Aku kecewa! Aku marah! Aku… Aku… Aku tidak menyangka mereka berbuat begini.
“Ma…” Suaraku lirih.
Sontak mereka semua melihat padaku. Mereka tercengang. Mereka bingung, mereka diam, mereka… Takut. Perlahan aku berjalan mendekati mereka. Perlahan dengan langkah lemas tak berdaya.
“Kenapa?”, tanyaku lirih. “Kenapa, Ma?”, tanyaku lagi. Lirih. “Jo? Luna? Kiki? Kalian semua ikut dalam sandiwara ini?”, tanyaku masih suara lirih. Lemas.
Mereka diam. Saling memandang dengan wajah bingung. Takut tepatnya.
“Kenapa?” “KENAPA KALIAN SEMUA LAKUIN INI?!!!!”, Aku marah.
Saat itu juga mama langsung berdiri dan menghampiriku dengan langkah berat.
“Nak… Me, mama bisa jelasin ini semua.”, kata beliau takut.
“Stop.”, kataku lirih.
Aku menutup mataku. Membukanya perlahan. Dan yang aku lihat hanya 4 orang yang aku sayangi, telah mengkhianatiku. Luna, Kiki, Jo, bahkan mamaku sendiri.
Air mataku mulai menetes. Deras, deras, dan semakin deras. Aku hanya menangis. Tidak hanya mata ini, namun juga hati ini yang menjerit keras menangis.
“Kebahagianku tidak dengan harus melupakannya, Ma. Tidak menggantikannya. Aku bisa.”
Suaraku terdengar menyakitkan. Sakit karena deruan tangisan yang tidak mau berhenti maupun beristirahat sejenak. Aku hanya menggeleng. Lagi. Aku menggeleng. Dan berlari. Berlari menjauh dari tempat ini. Berlari menjauh dari orang-orang ini. Berlari menjauh dari semua masalah ini!
“Hah… Capek. Sampai rumah aku pengen mandi, makan, langsung tidur.”
Sesampainya di rumah aku melihat ada 3 motor terparkir di halaman. Motornya familiar dengan ingatanku. Sepertinya aku kenal siapa pemiliknya. Dengan segera aku langsung memasuki rumah. Ruang depan kosong, tidak ada siapa pun, ruang tengah juga kosong, dapur, juga. Dimana semuanya?
“Jadi Meka tidak menyukaimu?”
Ada suara dari halaman belakang. Suara mama?? Perlahan aku berjalan menuju asal suara. Tidak hanya suara mama yang aku dengar, namun ada orang lain. Perempuan dan laki-laki.
“Jo? Luna? Kiki?”, kataku lirih dibalik pintu.
Aku bingung, kenapa mereka disini. Dan bagaimana mama bisa mengenal Jo? Aku tidak pernah mengenalkan Jo kepada mama.
“Kata Meka, dia hanya menganggap Jo sebagai teman, Tan”, Luna menerangkan.
“Iya, Tan. Padahal Jo itu sudah membuat Meka tertawa terus dan mendekati dia. Bahkan Jo sering memberi perhatian lebih kepadanya.”
“Tapi, Meka sama sekali tidak menganggap itu special, Tante.”, Jo memotong pembicaraan Kiki.
“Ya Tuhan… Bagaimana lagi aku harus membuat putriku mendapatkan kebahagiannya lagi? Padahal aku sudah menyuruh seseorang untuk mendekatinya. Sedangkan dia masih saja mencintai kekasihnya yang telah tiada.”
DEG! Aku terdiam. Aku terpaku, mematung disana. Jadi ini semua rekayasa? Mama menyewa Jo untuk ini? Untuk membuatku melupakan cintaku? Ryan…
Aku bingung. Aku kecewa! Aku marah! Aku… Aku… Aku tidak menyangka mereka berbuat begini.
“Ma…” Suaraku lirih.
Sontak mereka semua melihat padaku. Mereka tercengang. Mereka bingung, mereka diam, mereka… Takut. Perlahan aku berjalan mendekati mereka. Perlahan dengan langkah lemas tak berdaya.
“Kenapa?”, tanyaku lirih. “Kenapa, Ma?”, tanyaku lagi. Lirih. “Jo? Luna? Kiki? Kalian semua ikut dalam sandiwara ini?”, tanyaku masih suara lirih. Lemas.
Mereka diam. Saling memandang dengan wajah bingung. Takut tepatnya.
“Kenapa?” “KENAPA KALIAN SEMUA LAKUIN INI?!!!!”, Aku marah.
Saat itu juga mama langsung berdiri dan menghampiriku dengan langkah berat.
“Nak… Me, mama bisa jelasin ini semua.”, kata beliau takut.
“Stop.”, kataku lirih.
Aku menutup mataku. Membukanya perlahan. Dan yang aku lihat hanya 4 orang yang aku sayangi, telah mengkhianatiku. Luna, Kiki, Jo, bahkan mamaku sendiri.
Air mataku mulai menetes. Deras, deras, dan semakin deras. Aku hanya menangis. Tidak hanya mata ini, namun juga hati ini yang menjerit keras menangis.
“Kebahagianku tidak dengan harus melupakannya, Ma. Tidak menggantikannya. Aku bisa.”
Suaraku terdengar menyakitkan. Sakit karena deruan tangisan yang tidak mau berhenti maupun beristirahat sejenak. Aku hanya menggeleng. Lagi. Aku menggeleng. Dan berlari. Berlari menjauh dari tempat ini. Berlari menjauh dari orang-orang ini. Berlari menjauh dari semua masalah ini!
---
Sejak saat itu aku, menjauh. Dari Luna, Kiki, mama, bahkan Jo. Jo, hah… Dia orang yang mulai aku percaya. Hanya sebagai seorang sahabat, lebih pun hanya sebagai seorang kakak. Tapi kenapa dia mau melakukan ini? Kalau dia butuh uang, aku bersedia membayarnya seberapapun, asalkan dia tulus mau berteman denganku.
Jujur, aku tidak pernah suka dengan hal ini. Tidak! Semua ini hanya membuatku merasa sendiri.. Sepi. Kesepian ini membuatku merasa semakin terpuruk. Terkucilkan. Kesepian ini membuatku semakin mengingat Ryan. Ryan… Tawanya, senyumnya, candaannya. Ryan… Aku mengingat semua tentang dia. Saat pertama dia mengenalku. Saat pertama dia malu mengajakku berbicara. Saat pertama dia memandangku terpaku. Saat pertama dia menyatakan cinta. Saat pertama dia membuatku tertawa. Saat pertama dia menjahiliku. Saat pertama dia menggenggam erat tanganku. Saat pertama dia menghiburku. Saat pertama dia memelukku. Saat pertama dia… dia… dia…
“AAAAAAA!!!!!!!!!!!”
“Tuhan!!! Kenapa Kau lakukan semua ini padaku?! Apa kurang aku bersujud menyembah kepadaMu?! Apa perlu aku selamanya bersujud di sajadah suciMu?! Apa perlu aku membungkuk setiap detik untukMu? AAA!!! Tuhan!!! Kenapa Tuhan Kenapa?”
Air mataku menetes.
“Tuhan… Aku tahu Engkau telah mengambil cintaku dan membawanya pergi ke pelukanMu. Aku tahu… Aku mengerti... Tapi, kenapa semua terjadi secepat ini?!! Kenapa Tuhan? KENAPA??!!”
“Tuhan… Aku bisa mendapatkan kebahagianku kembali. Aku bisa Tuhan… Namun tidak dengan cara melupakannya. Kumohon Tuhan… Kumohon beritahu mereka bahwa aku bisa melakukannya…”
Aku menangis. Ya… Semakin deras. Aku terisak. Degup jantungku terasa cepat dan kencang di dada ini. Perlahan aku menutup mataku. Berusaha menenagkan diri dan menarik nafas panjang. Hingga akhirnya aku membuka mata dan yang terlihat adalah sepasang kaki. Aku mengangkat kepalaku ke atas.
“Jo?”
Jo berjongkok. Dia mengusap pipiku lembut dan menggenggam bahuku tegas dan mengangkatnya ke atas,
“Maaf Me. Maafin aku. Maaf. Gak seharunya aku melakukan ini. Seharusnya aku percaya kamu bisa mendapatkan kebahagianmu sendiri tanpa melupakan cintamu. Maaf Me.. Maaf”
Aku menggeleng. Masih bercucuran air mata. Aku memeluk Jo. Kali ini aku sangat membutuhkan pelukan hangat dari seseorang. Ya… Kami menangis. Menangis dalam pelukan. Pelukan Jo. Pelukan seorang sahabat.
Malam itu juga aku meminta maaf kepada mereka. Luna, Kiki, dan mama. Dan mereka juga lebih meminta maaf kepadaku. Perlahan aku bicara, dan perlahan juga mereka percaya bahwa aku bisa bangkit. Aku bisa bahagia. Dan aku masih bisa merasakan cinta sejati suatu saat nanti. Aku bisa. Dan aku yakin.
Aku yakin aku bisa merasakan cinta. Bukan hanya cinta dari seorang lelaki kepada wanita lemah ini. Namun cinta yang sudah selama ini aku rasakan, adalah cinta dari keluargaku, sahabatku. Cinta sahabatku yng selama ini bergelimang di sekitarku.
Aku ingat saat-saat indah itu bersama mereka. Saat Luna nginap dirumahku, tidur hingga bermandikan air liur. Saat Kiki di kejar-kejar anjing bulldog. Saat Jo ketawa-ketiwi ngerjain satpam. Saat kami bertiga merencanakan membwa “kabur” Luna. Saat kami berempat hangout bareng. Saat… Saat-saat itu yang membuatku semangat hidup. Saat itu yang membangkitkan gairahku. Saat-saat itu yang menceriakan aku. Saat-saat itu aku sadar, betapa banyak cinta yang ada disekitaku.
Cinta tak perlu dari seorang yang khusus. Tak perlu dari seorang prince charming yang datang membwa kereta kuda emas. Namun cinta dari seorang sahabat yang setia menemani kita, kapanpun, dimanapun, apapun. Sangat indah, jika kita mampu mensyukuri. Cinta seorang sahabat yang istimewa.
---
Jujur, aku tidak pernah suka dengan hal ini. Tidak! Semua ini hanya membuatku merasa sendiri.. Sepi. Kesepian ini membuatku merasa semakin terpuruk. Terkucilkan. Kesepian ini membuatku semakin mengingat Ryan. Ryan… Tawanya, senyumnya, candaannya. Ryan… Aku mengingat semua tentang dia. Saat pertama dia mengenalku. Saat pertama dia malu mengajakku berbicara. Saat pertama dia memandangku terpaku. Saat pertama dia menyatakan cinta. Saat pertama dia membuatku tertawa. Saat pertama dia menjahiliku. Saat pertama dia menggenggam erat tanganku. Saat pertama dia menghiburku. Saat pertama dia memelukku. Saat pertama dia… dia… dia…
“AAAAAAA!!!!!!!!!!!”
“Tuhan!!! Kenapa Kau lakukan semua ini padaku?! Apa kurang aku bersujud menyembah kepadaMu?! Apa perlu aku selamanya bersujud di sajadah suciMu?! Apa perlu aku membungkuk setiap detik untukMu? AAA!!! Tuhan!!! Kenapa Tuhan Kenapa?”
Air mataku menetes.
“Tuhan… Aku tahu Engkau telah mengambil cintaku dan membawanya pergi ke pelukanMu. Aku tahu… Aku mengerti... Tapi, kenapa semua terjadi secepat ini?!! Kenapa Tuhan? KENAPA??!!”
“Tuhan… Aku bisa mendapatkan kebahagianku kembali. Aku bisa Tuhan… Namun tidak dengan cara melupakannya. Kumohon Tuhan… Kumohon beritahu mereka bahwa aku bisa melakukannya…”
Aku menangis. Ya… Semakin deras. Aku terisak. Degup jantungku terasa cepat dan kencang di dada ini. Perlahan aku menutup mataku. Berusaha menenagkan diri dan menarik nafas panjang. Hingga akhirnya aku membuka mata dan yang terlihat adalah sepasang kaki. Aku mengangkat kepalaku ke atas.
“Jo?”
Jo berjongkok. Dia mengusap pipiku lembut dan menggenggam bahuku tegas dan mengangkatnya ke atas,
“Maaf Me. Maafin aku. Maaf. Gak seharunya aku melakukan ini. Seharusnya aku percaya kamu bisa mendapatkan kebahagianmu sendiri tanpa melupakan cintamu. Maaf Me.. Maaf”
Aku menggeleng. Masih bercucuran air mata. Aku memeluk Jo. Kali ini aku sangat membutuhkan pelukan hangat dari seseorang. Ya… Kami menangis. Menangis dalam pelukan. Pelukan Jo. Pelukan seorang sahabat.
Malam itu juga aku meminta maaf kepada mereka. Luna, Kiki, dan mama. Dan mereka juga lebih meminta maaf kepadaku. Perlahan aku bicara, dan perlahan juga mereka percaya bahwa aku bisa bangkit. Aku bisa bahagia. Dan aku masih bisa merasakan cinta sejati suatu saat nanti. Aku bisa. Dan aku yakin.
Aku yakin aku bisa merasakan cinta. Bukan hanya cinta dari seorang lelaki kepada wanita lemah ini. Namun cinta yang sudah selama ini aku rasakan, adalah cinta dari keluargaku, sahabatku. Cinta sahabatku yng selama ini bergelimang di sekitarku.
Aku ingat saat-saat indah itu bersama mereka. Saat Luna nginap dirumahku, tidur hingga bermandikan air liur. Saat Kiki di kejar-kejar anjing bulldog. Saat Jo ketawa-ketiwi ngerjain satpam. Saat kami bertiga merencanakan membwa “kabur” Luna. Saat kami berempat hangout bareng. Saat… Saat-saat itu yang membuatku semangat hidup. Saat itu yang membangkitkan gairahku. Saat-saat itu yang menceriakan aku. Saat-saat itu aku sadar, betapa banyak cinta yang ada disekitaku.
Cinta tak perlu dari seorang yang khusus. Tak perlu dari seorang prince charming yang datang membwa kereta kuda emas. Namun cinta dari seorang sahabat yang setia menemani kita, kapanpun, dimanapun, apapun. Sangat indah, jika kita mampu mensyukuri. Cinta seorang sahabat yang istimewa.
---
“Hoi!!”
Aku menoleh ke asal suara. “Maaf?”, tanyaku.
Aku tidak mengenal orang yang menyapaku ini.
“Kamu Gina kan?”, Tanya cowok tadi bingung.
Aku tambah bingung. “Maaf, salah orang mungkin. Aku bukan Gina.”, jawabku tersenyum.
“Loh bukan ya?”
Laki-laki itu menggaruk kepalanya kik-kuk. Dia tertawa kecil. “Kamu bukan Gina ya? Terus nama kamu siapa?” Dia tersenyum.
Aku tertawa kecil.
Segala bentuk perkenalan itu mempengaruhi kedekatan nantinya. Namun segala bentuk kedekatan, belum tentu mempengaruhi arti hubungan selanjutnya. Cinta itu lebih berkenang dari sahabat. Namun sahabat lebih berarti dari cinta. Sahabat.
Aku menoleh ke asal suara. “Maaf?”, tanyaku.
Aku tidak mengenal orang yang menyapaku ini.
“Kamu Gina kan?”, Tanya cowok tadi bingung.
Aku tambah bingung. “Maaf, salah orang mungkin. Aku bukan Gina.”, jawabku tersenyum.
“Loh bukan ya?”
Laki-laki itu menggaruk kepalanya kik-kuk. Dia tertawa kecil. “Kamu bukan Gina ya? Terus nama kamu siapa?” Dia tersenyum.
Aku tertawa kecil.
Segala bentuk perkenalan itu mempengaruhi kedekatan nantinya. Namun segala bentuk kedekatan, belum tentu mempengaruhi arti hubungan selanjutnya. Cinta itu lebih berkenang dari sahabat. Namun sahabat lebih berarti dari cinta. Sahabat.
END
Inilah sahabat gue
Hai nama gue Shintia gue yang paling tengah, teman-teman biasa manggil gue shin atau tia. Sekarang gue duduk di bangku kelas 11 di salah satu sekolah menengah atas negeri di Cirebon. Gue punya enam sahabat, mereka super gila. Lebih gila dari apa yang gue bayangin sebelumnya. Ke enam sahabat gue itu ialah Gina (sebelah kiri gue), Eca (sebelah kanan gue), Ranti (sebelah kanan Eca), Yune (sebelah kanan Ranti), Iska (sebelah kanan Rasty) dan Rasty (sebelah kanan Gina). Sebenarnya waktu kelas 10 kita sama sekali gak deket, bahkan kita gak saling kenal. Cuma gara-gara kelas 11 bareng, akhirnya kita deket dan sahabatan deh .
Setiap free class dateng, pasti kita duduk di depan kelas sambil becanda, ngerumpi, atau ngebahas hal-hal konyol lainnya.
“Hari ini latihan dance gak Gin?” Tanya Eca pada Gina.
Oh iya, Gina sama Eca itu adalah salah satu dancer SMA kita. Gue sempat berniat buat jadi manager mereka tapi gue belum siap .
“Engga Ca, hari ini Gina mau les matematika!!” jawab Gina kepada Eca.
“Eh eh tau gak sih, si Widya tuh udah jadian loh sama Nana hm” ujar Yune sambil melirik ke Widya dan Nana yang asik berduaan.
“Haaaaaah serius yun? Pantesan sekarang lengket banget” jawab Ranti heran.
“Seriusan Ranti, iya lengket banget huu kemarin juga si Widya di anterin pulangnya” jawab Yune.
“Oh gitu Yun….. pantesan kemarin pas sparing Basket di SMA 4 si Widya nonton haha ternyata mau nonton pacarnya. Asiklah udah jadian sih wkwk iyakan Ca kemarin tuh ada Widya nonton basket?” Tanya gue kepada Eca.
“Kayanya iya Shin, Eca lupa hm kan Eca ngeliatin pacar Eca aja hehehe” jawab Eca sambil tersenyum.
“Aduuuuuuh Eca…. Afgan terus yang dipikirin!”ujar Rasty menyeleneh Eca.
“Ya gapapa dong Ras, mendingan Eca udah jelas jadi pacarnya Afgan. Dari pada kamu di gantungin sama Aldi haha kasian ih Aldinya”
“Kok kasian Aldinya? Harusnya kan kasian sama aku dong Ca :O” Jawab Rasty sambil manyun.
“Lah kok pada berdebat” Ujar gue nyeleneh sedikit.
“Udah dong, ngapain sih pada ngomongin orang ngomongin cowok! Gak inget besok ulangan Biologi” Celoteh Iska memberikan siraman rohaninya kepada Eca dan Rasty.
“Cie Iska mikirin ulangan ahaha gue tau kenapa Iska ngomong kaya tadi :P” jawab Ranti sambil tertawa.
“Iska kan rajin Ran, emangnya kamu hahaha emangnya kenapa coba? Ngakak mulu gak bagi-bagi” gina heran.
“Ih Ranti kenapa sih, jangan ketawa sendirian dong hmm” gue juga ikut heran.
“Hahaha yaiya Iska ngomongnya gitu, kan Iska jomblo jadinya dia rajin mikirin pelajaran bukan mikirin cowok! Iyakan mbloooo :p” Jawab Ranti sambil mengolok-olok Iska.
“Ih Ranti kamu jahat banget sih sama aku” jawab Iska sambil berlari mengejar Ranti yang bergegas masuk ke kelas karena Pak Sanusi sudah ada di dalam kelas kami.
Persahabatan kami, kami namakan “NERO”. Nero ini bukan berarti geng brutal yang ada di Jawa Timur itu, Nero kami ini berbeda. Nero kami mempunyai arti “Nekat Kroyok” hahaha. Sebenarnya ide nama Nero ini muncul saat gue gak sengaja bilang kata-kata Nero. Dan arti dari nekat kroyok itu sendiri Cuma plesetan, Cuma iseng dan Cuma intermezzo biar semua orang tau kalau kita selalu menyelesaikan masalah bersama. Makanya kami selalu di cap “Kroyokan” hehe. Kedengarannya sih emang cemen banget, tapi kami enjoy dengan judge orang-orang tersebut.**
Pada suatu hari Wakasek SMA kami memberitahu bahwa semester 2 kelas kita akan dibagi lagi. Aaaaargh rasanya sedih banget harus pisah sama mereka berenam, ya walaupun kami tetap satu sekolah. Gue gak nyangka, bener-bener gak nyangka. Kenapa harus ada pembagian kelas lagi? Kenapa? Kami bertujuh hanya bisa diam, kami sempat berencana untuk menggagalkan rencana Wakasek itu, tapi apa daya hmm semua nama dan kelasnya sudah tercetak masing-masing dan akan diumumkan pada hari pertama masuk sekolah di semester 2.
Hari ini, hari pertama masuk sekolah di semester 2. Rasanya pengen banget marah di depan Wakasek, tapi gue sadar gue Cuma seorang siswa yang harus mematuhi peraturan sekolah. Pada saat upacara bendera kami bergumam :
“Gin, kayanya kita bertujuh bakalan pisah” gue coba tegar saat Tanya sama Gina.
“Iya Shin, gue juga gatau kenapa semuanya jadi kaya gini. Nero pisah? Gak nyangka banget Shin. Maunya apa sih tuh orang, baru wakasek aja udah ngatur-ngatur seenaknya” jawab Gina geram dengan Wakasek yang sedang menjadi Pembina upacara.
“Gin perlu gak gue timpuk tuh orang pake sepatu? Haha” ujar Ranti menyeloteh.
“Sabar sabar….. Mendingan kita langsung maju aja ke depan Ran haha” jawab gue sambil terbahak-bahak.
“Mau ngapain Shin ke depan wkwk” jawab Ranti.
“Heh Shin macem-macem bae ahaha” jawab Eca sambil ikut tertawa.
Sesudahnya upacara Bendera, kita masuk kelas masing-masing. Suasana kelas yang berbeda, teman sebangku yang beda, dan semuanya berbeda. Suasana kelas baru tidak sama dengan suasana kelas gue yang dulu sama Nero. Ya walaupun demikian, kami tetap hang out bareng, seperti biasa sepulang sekolah hari sabtu kita pasti pergi bertujuh. Entah itu nonton, karaokean, atau Cuma nongkrong ngebuang rasa penat.
Hari demi hari, bulan demi bulan kami lalui sebagai seorang sahabat. Tiap ada masalah pasti kami saling bertukar pikiran dan saling mencari solusi. Kini kami kelas12, itu berarti sebentar lagi kami akan pisah, benar-benar pisah untuk meraih cita-cita kami masing-masing. Siang itu kami bertujuh duduk di rumput depan kelas gue. Kami merenung, hmm rasanya ingin terus sama-sama mereka samapi kapanpun.
“Kalian sadar engga sih, kita tuh bentar lagi beneran pisah” Ujar Gina.
“Iya, ga akan satu sekolah lagi hmm” jawab Eca.
“Nanti ada gak ya yang kaya kalian” Iska bersuara.
“Rasty masih pengen sama kalian” ujar Rasty.
“aduuh masih belum bisa di bayangin” ujar Ranti.
“Jangan ngomongin ini dong, mumet pusing tau” ujar Yune.
“Waduh ganti tema pembicaraan sih, kita bakalan tetep sama-sama kok bakalan terus sahabatan ciyusan deh hm” Gue coba tegar, walaupun di dalam hati ini masih perih.
Kami bertujuh berpelukan, sampai-sampai kami menghiraukan suara bel sekolah yang berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai.** - See more at: http://blog.yess-online.com/inilah-sahabat-gue#sthash.Wtz8tmeh.dpuf
Setiap free class dateng, pasti kita duduk di depan kelas sambil becanda, ngerumpi, atau ngebahas hal-hal konyol lainnya.
“Hari ini latihan dance gak Gin?” Tanya Eca pada Gina.
Oh iya, Gina sama Eca itu adalah salah satu dancer SMA kita. Gue sempat berniat buat jadi manager mereka tapi gue belum siap .
“Engga Ca, hari ini Gina mau les matematika!!” jawab Gina kepada Eca.
“Eh eh tau gak sih, si Widya tuh udah jadian loh sama Nana hm” ujar Yune sambil melirik ke Widya dan Nana yang asik berduaan.
“Haaaaaah serius yun? Pantesan sekarang lengket banget” jawab Ranti heran.
“Seriusan Ranti, iya lengket banget huu kemarin juga si Widya di anterin pulangnya” jawab Yune.
“Oh gitu Yun….. pantesan kemarin pas sparing Basket di SMA 4 si Widya nonton haha ternyata mau nonton pacarnya. Asiklah udah jadian sih wkwk iyakan Ca kemarin tuh ada Widya nonton basket?” Tanya gue kepada Eca.
“Kayanya iya Shin, Eca lupa hm kan Eca ngeliatin pacar Eca aja hehehe” jawab Eca sambil tersenyum.
“Aduuuuuuh Eca…. Afgan terus yang dipikirin!”ujar Rasty menyeleneh Eca.
“Ya gapapa dong Ras, mendingan Eca udah jelas jadi pacarnya Afgan. Dari pada kamu di gantungin sama Aldi haha kasian ih Aldinya”
“Kok kasian Aldinya? Harusnya kan kasian sama aku dong Ca :O” Jawab Rasty sambil manyun.
“Lah kok pada berdebat” Ujar gue nyeleneh sedikit.
“Udah dong, ngapain sih pada ngomongin orang ngomongin cowok! Gak inget besok ulangan Biologi” Celoteh Iska memberikan siraman rohaninya kepada Eca dan Rasty.
“Cie Iska mikirin ulangan ahaha gue tau kenapa Iska ngomong kaya tadi :P” jawab Ranti sambil tertawa.
“Iska kan rajin Ran, emangnya kamu hahaha emangnya kenapa coba? Ngakak mulu gak bagi-bagi” gina heran.
“Ih Ranti kenapa sih, jangan ketawa sendirian dong hmm” gue juga ikut heran.
“Hahaha yaiya Iska ngomongnya gitu, kan Iska jomblo jadinya dia rajin mikirin pelajaran bukan mikirin cowok! Iyakan mbloooo :p” Jawab Ranti sambil mengolok-olok Iska.
“Ih Ranti kamu jahat banget sih sama aku” jawab Iska sambil berlari mengejar Ranti yang bergegas masuk ke kelas karena Pak Sanusi sudah ada di dalam kelas kami.
Persahabatan kami, kami namakan “NERO”. Nero ini bukan berarti geng brutal yang ada di Jawa Timur itu, Nero kami ini berbeda. Nero kami mempunyai arti “Nekat Kroyok” hahaha. Sebenarnya ide nama Nero ini muncul saat gue gak sengaja bilang kata-kata Nero. Dan arti dari nekat kroyok itu sendiri Cuma plesetan, Cuma iseng dan Cuma intermezzo biar semua orang tau kalau kita selalu menyelesaikan masalah bersama. Makanya kami selalu di cap “Kroyokan” hehe. Kedengarannya sih emang cemen banget, tapi kami enjoy dengan judge orang-orang tersebut.**
Pada suatu hari Wakasek SMA kami memberitahu bahwa semester 2 kelas kita akan dibagi lagi. Aaaaargh rasanya sedih banget harus pisah sama mereka berenam, ya walaupun kami tetap satu sekolah. Gue gak nyangka, bener-bener gak nyangka. Kenapa harus ada pembagian kelas lagi? Kenapa? Kami bertujuh hanya bisa diam, kami sempat berencana untuk menggagalkan rencana Wakasek itu, tapi apa daya hmm semua nama dan kelasnya sudah tercetak masing-masing dan akan diumumkan pada hari pertama masuk sekolah di semester 2.
Hari ini, hari pertama masuk sekolah di semester 2. Rasanya pengen banget marah di depan Wakasek, tapi gue sadar gue Cuma seorang siswa yang harus mematuhi peraturan sekolah. Pada saat upacara bendera kami bergumam :
“Gin, kayanya kita bertujuh bakalan pisah” gue coba tegar saat Tanya sama Gina.
“Iya Shin, gue juga gatau kenapa semuanya jadi kaya gini. Nero pisah? Gak nyangka banget Shin. Maunya apa sih tuh orang, baru wakasek aja udah ngatur-ngatur seenaknya” jawab Gina geram dengan Wakasek yang sedang menjadi Pembina upacara.
“Gin perlu gak gue timpuk tuh orang pake sepatu? Haha” ujar Ranti menyeloteh.
“Sabar sabar….. Mendingan kita langsung maju aja ke depan Ran haha” jawab gue sambil terbahak-bahak.
“Mau ngapain Shin ke depan wkwk” jawab Ranti.
“Heh Shin macem-macem bae ahaha” jawab Eca sambil ikut tertawa.
Sesudahnya upacara Bendera, kita masuk kelas masing-masing. Suasana kelas yang berbeda, teman sebangku yang beda, dan semuanya berbeda. Suasana kelas baru tidak sama dengan suasana kelas gue yang dulu sama Nero. Ya walaupun demikian, kami tetap hang out bareng, seperti biasa sepulang sekolah hari sabtu kita pasti pergi bertujuh. Entah itu nonton, karaokean, atau Cuma nongkrong ngebuang rasa penat.
Hari demi hari, bulan demi bulan kami lalui sebagai seorang sahabat. Tiap ada masalah pasti kami saling bertukar pikiran dan saling mencari solusi. Kini kami kelas12, itu berarti sebentar lagi kami akan pisah, benar-benar pisah untuk meraih cita-cita kami masing-masing. Siang itu kami bertujuh duduk di rumput depan kelas gue. Kami merenung, hmm rasanya ingin terus sama-sama mereka samapi kapanpun.
“Kalian sadar engga sih, kita tuh bentar lagi beneran pisah” Ujar Gina.
“Iya, ga akan satu sekolah lagi hmm” jawab Eca.
“Nanti ada gak ya yang kaya kalian” Iska bersuara.
“Rasty masih pengen sama kalian” ujar Rasty.
“aduuh masih belum bisa di bayangin” ujar Ranti.
“Jangan ngomongin ini dong, mumet pusing tau” ujar Yune.
“Waduh ganti tema pembicaraan sih, kita bakalan tetep sama-sama kok bakalan terus sahabatan ciyusan deh hm” Gue coba tegar, walaupun di dalam hati ini masih perih.
Kami bertujuh berpelukan, sampai-sampai kami menghiraukan suara bel sekolah yang berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai.** - See more at: http://blog.yess-online.com/inilah-sahabat-gue#sthash.Wtz8tmeh.dpuf
Ketika Cinta harus meninggalkanku
“Ketika cinta harus meninggalkanku”
Oleh: Puja Novica
Oleh: Puja Novica
Hari ini Ibu mengantarku sampai di depan gerbang sekolah. Sebelum keluar dari mobil aku mencium tangan Ibu terlebih dahulu.
Saat aku berjalan menuju ruang kelas, tiba-tiba saja hatiku rasanya berdebar. Seperti ada sesuatu namun aku tak tahu apa itu. Aku terus saja berjalan. Dan tanpa aku duga, aku bertemu dengannya tepat di bawah tangga yang akan ku naiki. Dia adalah laki-laki yang kulihat dua hari yang lalu, saat pengenalan siswa baru kelas 10. Aku menatap matanya, dia juga membalas tatapanku. Ini adalah tatapan pertama kami. Matanya indah sekali, seketika itu aku merasakan ada perasaan yang berbeda. Tatapannya membuatku kagum. Tapi tak lama setelah itu dia langsung berpaling lalu menaiki tangga itu mendahuluiku.
**
Hari ini adalah hari pemilihan eskul bagi para siswa baru kelas 10. Sebagai senior, aku dan teman-teman akan mempromosikan berbagai jenis eskul kepada para adik kelas. Ini adalah kesempatanku untuk dapat melihatnya lagi.
Satu per satu perwakilan dari setiap eskul masuk kedalam ruang kelas itu. Saat aku memasuki ruang itu, mata ini langsung menjelajah mencari sosok laki-laki itu. Tak lama aku langsung menemukannya sedang menunduk. Dia duduk di bangku pojok paling belakang. Beberapa perwakilan sudah mulai mempromosikan eskul mereka. Sesekali aku melihat kearahnya, tapi dia terlihat tak pernah memperhatikan apa yang sedang disampaikan. Sesaat aku tersadar, Rio si kapten basket sedari tadi memerhatikan dia juga. Aku mulai merasa takut, dan tiba-tiba saja Rio menghentikan Dennis yang sedang mempromosikan eskul bulu tangkis.
“Hei kamu!” panggil Rio kasar sambil menunjuk kearahnya.
Semua orang menatap kearahnya, tapi wajahnya nampak santai tak perduli. Tiba-tiba saja dia berdiri dan menjawab Rio dengan nada cuek,
“Gue?”
“Siapa nama lo?” tanya Rio dengan nada keras.
“Nama gue Gio.”
“Dari tadi gue perhatiin lu gak pernah ngedengerin temen-temen gue ngomong kan?”
“Gue emang gak denger. Terus kenapa?”
Dia benar-benar cari mati. Omongannya tentu saja membuat hati Rio menjadi panas.
“Mau nantangin gue lu?” tanya Rio
“Sopan dong sama kaka kelas!” timpal Kiki
“Gue mau tau dong alasan lu kenapa lu gak mau ngedengerin kita?” tanya Beno dengan santai.
“Gue gak butuh eskul.” Jawab Gio sambil membuang muka.
Sekarang Rio benar-benar sudah marah. Dia berjalan mendekati Gio sambil mengepal kedua tangannya. Perasaanku semakin tidak enak. Bagaimana pun caranya aku harus mencegah Rio. Tiba-tiba saja sebuah ide gila melintas dikepalaku. Tak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan ide gila ini. Dengan keras aku berteriak, “Gempa!!Gempa!!Ayo semua turun kebawah!” Dan berhasil! Mereka semua percaya. Semua orang terlihat panik dan berlarian ke arah bawah. Oh Tuhan, sekarang apa yang harus aku lakukan.
**
“Tolong ya Ness.” perintah Bu Indi.
“Iya Bu,” jawabku ramah. Sebenarnya aku malas membantu Bu Indi, tapi ya sudahlah. Lagi pula ini hanya sebentar. Aku hanya harus meletakkan kertas-kertas ini di atas meja Bu Indi dan setelah itu aku bisa pulang.
Pintu ruang guru tertutup. Sepertinya guru-guru sudah pulang. Aku membukanya dan ternyata di dalam sama sekali tidak ada orang. Aku berjalan kearah meja Bu Indi lalu meletakkan kertas-kertas ini. Setelah kuletakan, aku berjalan menuju pintu tapi aku tak sengaja menyenggol tumpukan buku hingga semuanya berserakan di lantai. Betapa kesalnya aku, terpaksa aku harus merapihkan buku-buku itu. Secara tak sengaja, aku menemukan buku Gio diantara buku-buku itu. Aku mengambilnya, kuamati tulisan-tulisannya yang sulit terbaca. Dalam hatiku tertawa saat melihat banyak gambar-gambar anime yang memenuhi bukunya. Tapi aku juga kecewa karena nilai-nilainya masih banyak yang buruk. Dia pasti seseorang yang pemalas. Dan saat aku melihat halaman terakhir berisi 10 soal biologi yang hanya dijawab 2. Oh tidak! dia mengumpulkan tugas ini hanya dengan menjawab 2 soal saja. Apa dia tidak takut jika nanti tinggal kelas. Oh Tuhan, ada apa dengannya. Apa yang membuatnya seperti ini. Air mataku menetes dengan sendirinya, jujur saja aku sangat kecewa padanya. Dengan cepat aku membereskan tumpukan buku itu dan menaruhnya di tempat semula, lalu berjalan kearah pintu dan mendorong pintu itu hingga hampir tertutup. Aku berjalan menuju meja guru paling belakang lalu duduk bersembunyi disana. Aku membuka ranselku, mengambil pulpen dari kotak pensilku, dan menjawab soal-soal yang belum diselesaikannya.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Untunglah soal-soal ini sudah selesai. Dengan cepat aku menaruh bukunya pada tumpukan buku tadi lalu meninggalkan ruang ini secepatnya.
**
Bola itu tepat melesat di dahiku. Rasanya sakit sekali, tapi aku berusaha untuk menahannya. Terlihat samar ada seseorang yang mendekat.
“Maaf ka, kami gak seng..” tiba-tiba saja suaranya hilang.
Aku tersadar, ada rasa sakit di sekitar kepalaku. Aku melihat seseorang sedang berdiri dihadapanku saat itu.
“Ka.. Kaka udah sadar?” tanya orang itu khawatir. Aku diam tak menjawab. Kepalaku rasanya masih sangat pusing. Tiba-tiba empat orang datang mendekat. Matanya, aku melihatnya ada diantara keempat orang itu.
“Ka maafin kami ya, kami gak sengaja lempar bola ke kepala Kaka.” ucap seseorang diantara mereka. Aku masih diam tak menjawabnya. Wajah mereka nampak menyesal dan mengharapkan maaf dariku. Tapi tidak dengan Gio. Dia nampak tidak perduli. Mungkin dia tidak merasa bersalah, karena seingatku bukan dia yang melempar bola itu padaku. Tapi tak apa yang penting dia ada di sini.
“Kak.. kepala kaka masih sakit?” tanya seseorang yang lain.
“Iii..yaa,” jawabku berat.
“Maafin kami ya kak, kami bener-bener gak sengaja.” timpal seseorang lagi. Aku menatap kearah Gio. Dia hanya diam, padahal aku ingin sekali mendengar dia yang berbicara.
“Kaka maafin, tapi kalian harus ikut kelompok kaka!”
“Kelompok apaan?”
“Namanya kelompok belajar. Pokoknya ikut aja ya!” paksaku.
“Semuanya?” tanya Gio cuek. Oh Tuhan, akhirnya dia berbicara.
“Iya.” Jawabku sambil menatap matanya yang juga menatapku. Hatiku mulai berdebar lagi.
“Gi.. andai kamu tau, sebenarnya aku sengaja mendekati bola itu supaya aku terkena lemparannya. Karena dengan cara ini, aku bisa mengajakmu belajar bersamaku.” batinku.
**
Aku bodoh! Aku gak bisa lari lebih cepat lagi. Di sepanjang jalan hatiku tak pernah berhenti mengkhawatirkannya. Dia pasti sudah babak belur. Aduh!! Kenapa aku baru tahu sekarang. Aku terus saja menyalahi diriku. Tiba-tiba saja Rio yang dibimbing beberapa temannya melintas di hadapanku. Wajahnya penuh dengan luka.
“Oh Tuhan, bagaimana keadaan Gio sekarang? Dimana dia?” batinku gelisah. Aku terus berjalan menuju area perkelahian mereka. Mudah-mudahan saja dia masih ada di sana. Dan ternyata benar. Dia masih disana. Syukurlah dia baik-baik saja. Lukanya tidak separah Rio. Tersirat rasa sedikit kagum atas kehebatannya berkelahi, tapi lebih besar lagi rasa kecewaku karena perlakuannya itu.
Aku rasa aku tak perlu mengkhawatirkannya lagi karena dia nampak baik-baik saja. Secepatnya aku pergi sebelum dia melihatku. Tapi saat aku berbalik kebelakang, aku melihat dari kejauhan Pak Sano sang guru BP berjalan kearah ini bersama beberapa guru lainnya. Oh tidak! dia pasti mau mencari Gio. Seseorang pasti sudah memberitahu mereka tentang perkelahian Gio dan Rio. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menghampiri Gio. Aku menarik tangannya dan mengajaknya lari dari tempat itu.
“Kenapa tarik-tarik tangan gue sih?” tanyanya heran sambil melepas genggamanku.
“Nanti gue jelasin, sekarang kita ngumpet dulu.” ucapku berusaha meyakinkannya. Akhirnya dia mau menurutiku. Kami berlari jauh dan sepertinya Pak Sano tak akan menemukan kami. Gio menghentikan langkahnya,
“Sebenernya ada apa lu ngajak gue lari?”
“Tadi gue liat pak Sano sama guru-guru lainnya mau nyamperin lu.” Jelasku sambil bernafas terengah-engah. Dia menarik tanganku lalu menyuruhku untuk duduk di sebuah kursi kayu.
“Lu tunggu di situ!” perintahnya lalu berjalan meninggalkanku. Aku hanya diam tak mengerti. Tak lama dia datang membawa sebotol air mineral.
“Nih minum dulu,”
“Makasih,” jawabku sambil mengambil air mineral darinya. Aku meneguk air itu perlahan-lahan. Setelah itu keadaan menjadi hening. Mendadak aku menjadi gugup. Aku merasa dia sedang menatapku, sekarang hatiku mulai berdebar lagi. Kali ini debarannya lebih kencang dari biasanya. Dan saat kulihat matanya, ternyata dia memang sedang menatap kearahku. Oh Tuhan, ada apa dengannya.
“Kamu kenapa sih?” Aku memulai pembicaraan, tapi dia tidak menjawabku. Dia terus saja melihatku aneh.
“Emm.. aku pulang duluan ya,” kataku lagi padanya. Aku berdiri, tapi tiba-tiba dia menarik tanganku.
“Ness, makasih ya buat semuanya.” ucapnya. Kali ini nada suaranya terdengar berebeda. Matanya, aku melihat tatapan matanya yang tulus.
“Makasih buat apa? Yang tadi? Hahaha.. itu kebetulan doang kok.” Jawabku sambil tertawa palsu. Aku sudah tidak tahan lama-lama bersamanya, aku merasa sangat gugup. Rasanya aku ingin berlari dan berteriak mengeluarkan semua kebahagiaanku saat ini.
“Bukan hanya buat yang tadi, tapi buat semuanya Ness.”
“Semuanya apaan?” tanyaku tak mengerti. Kali ini aku benar-benar tak sanggup. Dia menggenggam tanganku, menatapku dekat.
“Aness.. aku tahu waktu itu sebenarnya gak ada gempa. Dan aku juga tahu kamu yang isi semua soal biologi aku. Kamu juga rela kena bola supaya aku mau belajar lewat kelompok yang kamu bikin sendiri itu kan. Dan tadi, kamu pasti khawatir sama keadaan aku makanya kamu datang ketempat itu kan. Ness, kamu salah suka sama aku karena aku ini bukan cowok baik-baik. Aku gak bisa jadi apa-apa buat kamu. Aku gak bisa jadi orang sehebat kamu Ness, maka dari itu kamu harus cari laki-laki yang hebat, yang baik, yang bisa senangin hati kamu.”
Aku kaget, dari mana dia tahu itu. Dan sekarang dia sudah tau segalanya, termaksud perasaanku. Tapi kenapa dia malah merendahkan dirinya sendiri.
“Gi.. aku lakuin itu karena kamu bukan karena aku hebat. Kamu yang buat aku jadi hebat. Aku suka kamu seperti apa adanya diri kamu”
“Gak Ness. Kamu gak tahu gimana perasaan aku setiap melihat kamu, aku malu Ness, aku malu. Aku ini gak ada gunanya. Lagi pula sebentarlagi aku akan pergi Ness. Jadi aku gak akan ngerepotin kamu lagi.” ucapnya sambil tersenyum manis padaku.
“Maksud kamu apa Gi? Kamu mau pergi kemana?” tanyaku tak mengerti. Perasaanku mendadak tidak enak. Aku takut, aku takut kehilangannya. Aku rela melakukan apapun untuknya asalkan aku dapat melihatnya setiap hari. Air mataku pun mulai menetes.
“Nanti kamu akan tau.” Balasnya singkat lalu meninggalkanku sendiri.
**Mulai hari ini dan hari-hari kedepannya, aku tak akan menemui sosoknya lagi. Dia sudah pergi, Gio benar-benar pergi meninggalkanku. Ucapannya waktu itu ternyata benar. Gio di DO oleh pihak sekolah, dan terakhir aku dengar kabar dia pindah bersama keluarganya ke Filipina.
Sekarang inilah kenyataannya, takdir tidak bisa menyatukanku dengannya. Air mataku sudah cukup banyak menemani kesedihanku menerima kenyataan pahit ini. Rasanya sangat sakit, ketika kita sudah terlanjur mencintai seseorang, tapi dia malah pergi dari hidup kita. Terimakasih Tuhan untuk sebuah cinta yang kau beri, walaupun kini cinta itu harus pergi meninggalkanku. Satu hal yang kuminta, Tuhan.. tolong jaga dia dimana pun dia berada saat ini. Amin.
**
Saat aku berjalan menuju ruang kelas, tiba-tiba saja hatiku rasanya berdebar. Seperti ada sesuatu namun aku tak tahu apa itu. Aku terus saja berjalan. Dan tanpa aku duga, aku bertemu dengannya tepat di bawah tangga yang akan ku naiki. Dia adalah laki-laki yang kulihat dua hari yang lalu, saat pengenalan siswa baru kelas 10. Aku menatap matanya, dia juga membalas tatapanku. Ini adalah tatapan pertama kami. Matanya indah sekali, seketika itu aku merasakan ada perasaan yang berbeda. Tatapannya membuatku kagum. Tapi tak lama setelah itu dia langsung berpaling lalu menaiki tangga itu mendahuluiku.
**
Hari ini adalah hari pemilihan eskul bagi para siswa baru kelas 10. Sebagai senior, aku dan teman-teman akan mempromosikan berbagai jenis eskul kepada para adik kelas. Ini adalah kesempatanku untuk dapat melihatnya lagi.
Satu per satu perwakilan dari setiap eskul masuk kedalam ruang kelas itu. Saat aku memasuki ruang itu, mata ini langsung menjelajah mencari sosok laki-laki itu. Tak lama aku langsung menemukannya sedang menunduk. Dia duduk di bangku pojok paling belakang. Beberapa perwakilan sudah mulai mempromosikan eskul mereka. Sesekali aku melihat kearahnya, tapi dia terlihat tak pernah memperhatikan apa yang sedang disampaikan. Sesaat aku tersadar, Rio si kapten basket sedari tadi memerhatikan dia juga. Aku mulai merasa takut, dan tiba-tiba saja Rio menghentikan Dennis yang sedang mempromosikan eskul bulu tangkis.
“Hei kamu!” panggil Rio kasar sambil menunjuk kearahnya.
Semua orang menatap kearahnya, tapi wajahnya nampak santai tak perduli. Tiba-tiba saja dia berdiri dan menjawab Rio dengan nada cuek,
“Gue?”
“Siapa nama lo?” tanya Rio dengan nada keras.
“Nama gue Gio.”
“Dari tadi gue perhatiin lu gak pernah ngedengerin temen-temen gue ngomong kan?”
“Gue emang gak denger. Terus kenapa?”
Dia benar-benar cari mati. Omongannya tentu saja membuat hati Rio menjadi panas.
“Mau nantangin gue lu?” tanya Rio
“Sopan dong sama kaka kelas!” timpal Kiki
“Gue mau tau dong alasan lu kenapa lu gak mau ngedengerin kita?” tanya Beno dengan santai.
“Gue gak butuh eskul.” Jawab Gio sambil membuang muka.
Sekarang Rio benar-benar sudah marah. Dia berjalan mendekati Gio sambil mengepal kedua tangannya. Perasaanku semakin tidak enak. Bagaimana pun caranya aku harus mencegah Rio. Tiba-tiba saja sebuah ide gila melintas dikepalaku. Tak ada waktu lagi untuk mempertimbangkan ide gila ini. Dengan keras aku berteriak, “Gempa!!Gempa!!Ayo semua turun kebawah!” Dan berhasil! Mereka semua percaya. Semua orang terlihat panik dan berlarian ke arah bawah. Oh Tuhan, sekarang apa yang harus aku lakukan.
**
“Tolong ya Ness.” perintah Bu Indi.
“Iya Bu,” jawabku ramah. Sebenarnya aku malas membantu Bu Indi, tapi ya sudahlah. Lagi pula ini hanya sebentar. Aku hanya harus meletakkan kertas-kertas ini di atas meja Bu Indi dan setelah itu aku bisa pulang.
Pintu ruang guru tertutup. Sepertinya guru-guru sudah pulang. Aku membukanya dan ternyata di dalam sama sekali tidak ada orang. Aku berjalan kearah meja Bu Indi lalu meletakkan kertas-kertas ini. Setelah kuletakan, aku berjalan menuju pintu tapi aku tak sengaja menyenggol tumpukan buku hingga semuanya berserakan di lantai. Betapa kesalnya aku, terpaksa aku harus merapihkan buku-buku itu. Secara tak sengaja, aku menemukan buku Gio diantara buku-buku itu. Aku mengambilnya, kuamati tulisan-tulisannya yang sulit terbaca. Dalam hatiku tertawa saat melihat banyak gambar-gambar anime yang memenuhi bukunya. Tapi aku juga kecewa karena nilai-nilainya masih banyak yang buruk. Dia pasti seseorang yang pemalas. Dan saat aku melihat halaman terakhir berisi 10 soal biologi yang hanya dijawab 2. Oh tidak! dia mengumpulkan tugas ini hanya dengan menjawab 2 soal saja. Apa dia tidak takut jika nanti tinggal kelas. Oh Tuhan, ada apa dengannya. Apa yang membuatnya seperti ini. Air mataku menetes dengan sendirinya, jujur saja aku sangat kecewa padanya. Dengan cepat aku membereskan tumpukan buku itu dan menaruhnya di tempat semula, lalu berjalan kearah pintu dan mendorong pintu itu hingga hampir tertutup. Aku berjalan menuju meja guru paling belakang lalu duduk bersembunyi disana. Aku membuka ranselku, mengambil pulpen dari kotak pensilku, dan menjawab soal-soal yang belum diselesaikannya.
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Untunglah soal-soal ini sudah selesai. Dengan cepat aku menaruh bukunya pada tumpukan buku tadi lalu meninggalkan ruang ini secepatnya.
**
Bola itu tepat melesat di dahiku. Rasanya sakit sekali, tapi aku berusaha untuk menahannya. Terlihat samar ada seseorang yang mendekat.
“Maaf ka, kami gak seng..” tiba-tiba saja suaranya hilang.
Aku tersadar, ada rasa sakit di sekitar kepalaku. Aku melihat seseorang sedang berdiri dihadapanku saat itu.
“Ka.. Kaka udah sadar?” tanya orang itu khawatir. Aku diam tak menjawab. Kepalaku rasanya masih sangat pusing. Tiba-tiba empat orang datang mendekat. Matanya, aku melihatnya ada diantara keempat orang itu.
“Ka maafin kami ya, kami gak sengaja lempar bola ke kepala Kaka.” ucap seseorang diantara mereka. Aku masih diam tak menjawabnya. Wajah mereka nampak menyesal dan mengharapkan maaf dariku. Tapi tidak dengan Gio. Dia nampak tidak perduli. Mungkin dia tidak merasa bersalah, karena seingatku bukan dia yang melempar bola itu padaku. Tapi tak apa yang penting dia ada di sini.
“Kak.. kepala kaka masih sakit?” tanya seseorang yang lain.
“Iii..yaa,” jawabku berat.
“Maafin kami ya kak, kami bener-bener gak sengaja.” timpal seseorang lagi. Aku menatap kearah Gio. Dia hanya diam, padahal aku ingin sekali mendengar dia yang berbicara.
“Kaka maafin, tapi kalian harus ikut kelompok kaka!”
“Kelompok apaan?”
“Namanya kelompok belajar. Pokoknya ikut aja ya!” paksaku.
“Semuanya?” tanya Gio cuek. Oh Tuhan, akhirnya dia berbicara.
“Iya.” Jawabku sambil menatap matanya yang juga menatapku. Hatiku mulai berdebar lagi.
“Gi.. andai kamu tau, sebenarnya aku sengaja mendekati bola itu supaya aku terkena lemparannya. Karena dengan cara ini, aku bisa mengajakmu belajar bersamaku.” batinku.
**
Aku bodoh! Aku gak bisa lari lebih cepat lagi. Di sepanjang jalan hatiku tak pernah berhenti mengkhawatirkannya. Dia pasti sudah babak belur. Aduh!! Kenapa aku baru tahu sekarang. Aku terus saja menyalahi diriku. Tiba-tiba saja Rio yang dibimbing beberapa temannya melintas di hadapanku. Wajahnya penuh dengan luka.
“Oh Tuhan, bagaimana keadaan Gio sekarang? Dimana dia?” batinku gelisah. Aku terus berjalan menuju area perkelahian mereka. Mudah-mudahan saja dia masih ada di sana. Dan ternyata benar. Dia masih disana. Syukurlah dia baik-baik saja. Lukanya tidak separah Rio. Tersirat rasa sedikit kagum atas kehebatannya berkelahi, tapi lebih besar lagi rasa kecewaku karena perlakuannya itu.
Aku rasa aku tak perlu mengkhawatirkannya lagi karena dia nampak baik-baik saja. Secepatnya aku pergi sebelum dia melihatku. Tapi saat aku berbalik kebelakang, aku melihat dari kejauhan Pak Sano sang guru BP berjalan kearah ini bersama beberapa guru lainnya. Oh tidak! dia pasti mau mencari Gio. Seseorang pasti sudah memberitahu mereka tentang perkelahian Gio dan Rio. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menghampiri Gio. Aku menarik tangannya dan mengajaknya lari dari tempat itu.
“Kenapa tarik-tarik tangan gue sih?” tanyanya heran sambil melepas genggamanku.
“Nanti gue jelasin, sekarang kita ngumpet dulu.” ucapku berusaha meyakinkannya. Akhirnya dia mau menurutiku. Kami berlari jauh dan sepertinya Pak Sano tak akan menemukan kami. Gio menghentikan langkahnya,
“Sebenernya ada apa lu ngajak gue lari?”
“Tadi gue liat pak Sano sama guru-guru lainnya mau nyamperin lu.” Jelasku sambil bernafas terengah-engah. Dia menarik tanganku lalu menyuruhku untuk duduk di sebuah kursi kayu.
“Lu tunggu di situ!” perintahnya lalu berjalan meninggalkanku. Aku hanya diam tak mengerti. Tak lama dia datang membawa sebotol air mineral.
“Nih minum dulu,”
“Makasih,” jawabku sambil mengambil air mineral darinya. Aku meneguk air itu perlahan-lahan. Setelah itu keadaan menjadi hening. Mendadak aku menjadi gugup. Aku merasa dia sedang menatapku, sekarang hatiku mulai berdebar lagi. Kali ini debarannya lebih kencang dari biasanya. Dan saat kulihat matanya, ternyata dia memang sedang menatap kearahku. Oh Tuhan, ada apa dengannya.
“Kamu kenapa sih?” Aku memulai pembicaraan, tapi dia tidak menjawabku. Dia terus saja melihatku aneh.
“Emm.. aku pulang duluan ya,” kataku lagi padanya. Aku berdiri, tapi tiba-tiba dia menarik tanganku.
“Ness, makasih ya buat semuanya.” ucapnya. Kali ini nada suaranya terdengar berebeda. Matanya, aku melihat tatapan matanya yang tulus.
“Makasih buat apa? Yang tadi? Hahaha.. itu kebetulan doang kok.” Jawabku sambil tertawa palsu. Aku sudah tidak tahan lama-lama bersamanya, aku merasa sangat gugup. Rasanya aku ingin berlari dan berteriak mengeluarkan semua kebahagiaanku saat ini.
“Bukan hanya buat yang tadi, tapi buat semuanya Ness.”
“Semuanya apaan?” tanyaku tak mengerti. Kali ini aku benar-benar tak sanggup. Dia menggenggam tanganku, menatapku dekat.
“Aness.. aku tahu waktu itu sebenarnya gak ada gempa. Dan aku juga tahu kamu yang isi semua soal biologi aku. Kamu juga rela kena bola supaya aku mau belajar lewat kelompok yang kamu bikin sendiri itu kan. Dan tadi, kamu pasti khawatir sama keadaan aku makanya kamu datang ketempat itu kan. Ness, kamu salah suka sama aku karena aku ini bukan cowok baik-baik. Aku gak bisa jadi apa-apa buat kamu. Aku gak bisa jadi orang sehebat kamu Ness, maka dari itu kamu harus cari laki-laki yang hebat, yang baik, yang bisa senangin hati kamu.”
Aku kaget, dari mana dia tahu itu. Dan sekarang dia sudah tau segalanya, termaksud perasaanku. Tapi kenapa dia malah merendahkan dirinya sendiri.
“Gi.. aku lakuin itu karena kamu bukan karena aku hebat. Kamu yang buat aku jadi hebat. Aku suka kamu seperti apa adanya diri kamu”
“Gak Ness. Kamu gak tahu gimana perasaan aku setiap melihat kamu, aku malu Ness, aku malu. Aku ini gak ada gunanya. Lagi pula sebentarlagi aku akan pergi Ness. Jadi aku gak akan ngerepotin kamu lagi.” ucapnya sambil tersenyum manis padaku.
“Maksud kamu apa Gi? Kamu mau pergi kemana?” tanyaku tak mengerti. Perasaanku mendadak tidak enak. Aku takut, aku takut kehilangannya. Aku rela melakukan apapun untuknya asalkan aku dapat melihatnya setiap hari. Air mataku pun mulai menetes.
“Nanti kamu akan tau.” Balasnya singkat lalu meninggalkanku sendiri.
**Mulai hari ini dan hari-hari kedepannya, aku tak akan menemui sosoknya lagi. Dia sudah pergi, Gio benar-benar pergi meninggalkanku. Ucapannya waktu itu ternyata benar. Gio di DO oleh pihak sekolah, dan terakhir aku dengar kabar dia pindah bersama keluarganya ke Filipina.
Sekarang inilah kenyataannya, takdir tidak bisa menyatukanku dengannya. Air mataku sudah cukup banyak menemani kesedihanku menerima kenyataan pahit ini. Rasanya sangat sakit, ketika kita sudah terlanjur mencintai seseorang, tapi dia malah pergi dari hidup kita. Terimakasih Tuhan untuk sebuah cinta yang kau beri, walaupun kini cinta itu harus pergi meninggalkanku. Satu hal yang kuminta, Tuhan.. tolong jaga dia dimana pun dia berada saat ini. Amin.
**
Wednesday, 23 April 2014
Teru-teru bozu
Sudah seminggu ini hujan nggak pernah absen untuk berkunjung ke kotaku. Bahkan saking seringnya, rumahku jadi ikutan kebanjiran. Mama jadi sibuk ngomel sejak tadi pagi karena sofa yang baru aja dibeli ikut-ikutan basah. Untung aja kamarku ada di lantai dua jadi aku nggak perlu repot-repot ngungsiin barangku ke tempat yang lebih aman.
“Milly, kok bengong aja? Bantuin aku ngangkat karpet mama ke pagar dong” Seruan kak Mimi membuyarkan lamunanku. Aku segera bergegas membantunya, karena kalo nggak cepat-cepat dibantu, aku bisa kena semprot mama.
“Coba kalo nggak hujan mulu, pasti nggak bakalan banjir” Sambil menggerutu, aku bantu mengangkat karpet.
“Udah nggak usah ngeluh, kalo mama dengar, kamu bisa diomelin lho!”
“Seandainya aja ada pawang hujan…”
“Emang buaya pake pawang?” Kak Mimi tertawa mendengar perkataanku. Dipikirnya aku bercanda, padahal aku benar-benar berharap…
***
“Tumben ya semalam nggak hujan” Nadia berkata sambil meletakkan tasnya di meja. Nadia teman sebangkuku, anaknya ramah tapi centilnya minta ampun.
“Percaya nggak percaya… itu karena Teru-teru bozu” Tiba-tiba aja Hiro yang duduk di sudut ruangan ikut-ikutan ngobrol.
“Teru-teru bozu? Apaan tuh?” Aku bertanya penasaran.
“Oooh yang seperti di film kartun ikyu san itu?”
“Yup!”
“Emang siapa yang make Teru-teru bozu?” Nadia ikut penasaran.
“Semalam bokapku ngadain acara jamuan untuk teman-teman pengusahanya dari Jepang. Makanya, biar semua tamunya pada datang, beliau pasang boneka teru-teru bozu biar nggak hujan”
“Seampuh itu?”
“Buktinya semalam nggak hujan!” Hiro mencoba meyakinkan aku dan Nadia.
“Kan kebetulan doang!” Nadia berkata cuek
“Terserah deh… kan percaya nggak percaya!”
“Gimana kalo kita buktiin kebenarannya malam ini?” Tantangku sambil mengalihkan pandanganku ke arah langit yang mendung.
“Siapa takut!” Hiro menerima tantanganku dan berjanji untuk menemaniku menggantung teru-teru bozu di jendela kamarku, sepulang sekolah nanti.
Aku menatap langit, hari sudah mulai gelap namun mendung masih menggantung dengan angkuh. Sepertinya teru-teru bozu nggak berhasil nangkal hujan malam ini. Angin semakin kencang berhembus, membuatku terpaksa menutup pintu yang menghubungkan balkon dengan kamarku. Kulirik boneka teru-teru bozu yang bergerak terayun-ayun di luar. Kasihan… dia pasti kedinginan.
Suara petir membangunkan aku dari tidurku, akhirnya hujan turun juga. Aku tersenyum puas. Si Hiro pasti kecewa berat karena bonekanya itu terbukti nggak manjur. Tapi, di mana boneka itu? Ia tidak lagi berada di tempatnya. Aku segera berlari menuju balkon, di tengah riak hujan kulihat teru-teru bozu tergeletak di taman. Mungkin angin yang kencang membuat tali pengikatnya putus. Tanpa sadar aku berlari keluar kamar menuju taman untuk mengambil boneka itu.
“Teru-teru bozu ya?” seorang cowok menegurku dari balik pagar. Serentak aku menoleh, seorang cowok terseyum padaku di tengah derasnya hujan. Mata sipitnya mengingatkan aku pada Jonathan Mulia si bintang Mirror.
“Ngapain kamu di situ?” Aku bertanya sambil pasang kuda-kuda, kali aja dia punya niat jahat.
“Nggak usah takut, aku nggak punya niat jahat kok. Aku cuma mau nikmatin hujan, saat di mana aku bisa bebas dan berharap nemuin apa yang aku cari”
“Nyari apa kamu? Duit? Di sini nggak nerima sumbangan!” Kataku ketus. Cowok itu tersenyum, diliriknya teru-teru bozu yang kupegang
“Aku yang memutuskannya”
“Apa?” Aku menatapnya tak mengerti
“Aku yang mutusin tali pengikat teru-teru bozu-mu itu”
“Kenapa?”
“Kamu pikir ini sinetron?”
“Aku bercanda”
“Udah deh, sekarang kamu pulang aja. Terlalu lama main hujan-hujanan nggak baik buat kesehatan usus” aku berkata asal, cowok itu tertawa.
“Dokter sableng!”
“Siapa yang dokter sableng? Omonganku benar kok, kalo kamu terlalu lama hujan-hujanan apalagi tengah malam gini, kamu bisa sakit demam, nggak enak makan, nggak enak tidur, kan efeknya ke usus juga”
“Aku udah nggak takut dengan rasa sakit” Ia menggumam, sesaat kemudian ia melangkah pergi, aku mencoba mengejarnya, kubuka pintu pagar dan berteriak
“Hei, mau ke mana?”
“Pulang!”
“ Namamu siapa? Tukeran nomer hp dong!” Teriakku, sayangnya cowok itu tak mendengarnya. Suara gemuruh hujan terlalu keras, aku saja hampir tak bisa mendengar suaraku sendiri. Tiba-tiba…
“DUARRRRR!” Suara petir membuatku tersentak
“Mama” Teriakku.
“Sst, kakak nggak usah ikut-ikutan ngomel! Aku udah dari tadi diomelin mama, jangan buat aku tambah sakit dong”
“Makanya jangan baut ulah! Kalo kamu sakit kan kakak juga yang repot” Kak Mimi menepuk pipiku. Kakakku yang satu ini memang care, dia selalu saja mampu membuatku tenang, bahkan di saat sakit seperti ini.
“Kak, tolong gantungin boneka ini lagi dong!” Kataku sambil memperlihatkan boneka teru-teru bozu pada Kak Mimi. Dia menatapku gemas,
“Kamu kok nggak kapok-kapok? Kan kemarin udah terbukti kalo boneka itu nggak manjur buat nangkal hujan”
“Kakakku sayang, kemaren bonekanya jatuh, makanya itu nggak membuktikan apa-apa”
“Adekku sayang, hujan atau nggak… bukan boneka ini yang nentuin tapi TUHAN!”
“Manusia kan bisa berupaya, Tuhan menentukan. Aku berupaya melalui boneka ini, terkabul tidaknya liat aja nanti. Ya kak ya…”
“Paling pinter deh ngelesnya. Ya udah, sini bonekanya” Aku menyerahkan boneka itu pada Kak Mimi. Tidak lama kemudian boneka itu sudah tergantung kembali di balkonku, terayun-ayun ke kiri… ke kanan mengikuti angin. Tiba-tiba aku teringat cowok yang aku jumpai semalam, cowok aneh itu pasti sedang terserang demam juga sepertiku.
“Ayo, senyum-senyum sendiri, mikirin apa nih?” Tiba-tiba aja Nadia udah duduk di sampingku
“Kamu kok kemari? Nggak sekolah?”
“Yee, ini kan hari minggu dodol!” Nadia berkata gemas. Aku cengengesan, benar juga!
“Kayaknya si Hiro kalah nih, kenapa kemaren kita nggak pake taruhan aja ya” Ujar Nadia
“Tapi semalam boneka itu jatuh”
“Kok bisa jatuh?”
“Ada cowok yang mutusin talinya”
“Yang bener aja, pake apa dia mutusin talinya? Balkonmu kan tinggi. Lagian cowok yang mana sih?” Nadia semakin tidak mengerti. Iya juga ya… kok aku nggak mikirin itu semalam? Mana bisa dia mutusin tali pengikat boneka ini dari bawah… kecuali dia manjat ke balkonku… tapi, apa mungkin?
“Hei, kok malah ngelamun?” Nadia menepuk pipiku.
“Nggak tau deh! Kata cowok itu, dia yang mutusin talinya biar dia bisa nikmatin hujan”
“Cakep nggak?”
“Cakep juga sih, face-nya oriental banget”
“Pantesan kamu betah hujan-hujanan! Namanya siapa?”
“Aku lupa nanya namanya, pas aku teriak buat nanya, dia udah jauh. Sialnya, petir nongol tiba-tiba. Pingsan deh aku! Untung mama dengar teriakanku” Aku bercerita pada Nadia, cewek itu ketawa terpingkal-pingkal.
Sepanjang hari ini, langit sangat cerah. Matahari yang udah 10 hari nggak nongol-nongol akhirnya berbaik hati untuk tersenyum walaupun kadang-kadang bersembunyi di balik awan tipis. Semoga saja cuaca akan baik sampai nanti malam, karena aku sudah terlalu lama tidak melihat bintang, dan karena malam ini istimewa. Aku memang paling suka melihat bintang, makanya aku benci hujan… selain bisa membuat rumah kebanjiran, hujan juga menyembunyikan bintang.
“Siapa itu?”
“Sst… ini aku” Terdengar bisikan dari luar
“Siapa?”
“Rain”
“Siapa?”
“Aku cowok yang kemaren”
“Kamu? Bagaimana kamu bisa naik ke atas?” Aku membuka pintu.
“Manjat” Ia cengengesan
“Semudah itu?”
“Salahin arsitek bego yang merancang bangunan ini. Pagar dan pilar besar itu bisa dipanjat siapa saja” Katanya
“Arsiteknya Bapakku…” Aku marah. Cowok itu kaget,
“Ops… sorry”
“Mau mutusin tali pengikat boneka itu lagi?” Tanyaku pada cowok itu, ia mengangguk.
“Tolong jangan malam ini” Aku memohon
“Kenapa?”
“Aku pingin lihat bintang”
“Tapi malam ini istimewa, malam ini ulang tahun papa dan aku pingin menyapanya” Kataku sambil menerawang.
“Gitu aja repot! Bangunin aja papamu trus kasih ucapan selamat! Beres kan? Nggak perlu pake acara ngeliat bintang segala”
“Nggak semudah itu, karena papa udah menjadi bintang” Ujarku sambil menatap bintang yang paling terang. Cowok itu menatapku dengan tatapan heran,
“Empat tahun lalu, papa didiagnosa menderita kanker hati… kami sekeluarga sangat terpukul. Namun ketabahan papa selalu bisa menguatkan kami. Sebelum papa meninggal, ia sempat berpesan padaku agar nggak sedih karena aku masih bisa menemuinya kapan saja… Beliau akan menjadi bintang yang akan menyapaku tiap malam”
“Itu kan dongeng anak-anak”
“Saat papa meninggal, aku memang masih 11 taon… tapi sampai sekarang aku masih percaya karena bintang selalu mampu membuatku tenang”
“Kalo gitu aku pergi dulu” Cowok itu berpamitan, aku mencoba menahannya.
“Tunggu dulu!”
“Ada apa lagi?”
“Aku belum tahu namamu”
“Panggil aja aku Rain”
“Ngawur!”
“Hei apa yang kamu lakuin?”
“Ngikutin kamu sekaligus buktiin ucapanmu”
“Dasar cewek bego! Nanti kamu jatuh”
“Aku nggak bego, dan aku nggak jatuh!” Kataku puas setelah nyampe di bawah. Cowok itu tersenyum,
“Aku suka hujan”
“Karena apa?”
“Karena hujan membuatku bahagia, lepas dari nenek sihir berseragam putih yang selalu aja rewel ngurusin obat dan makananku, bikin aku tambah sakit aja. Selain itu aku pingin mencari putri hujan”
“Putri hujan? Memang ada? Ngawur! Tapi ngomong-ngomong kamu sakit apa?” Tiba-tiba aku jadi parno… jangan-jangan si Rain lagi sakit parah dan tinggal nunggu hari doang,
“Ada deh!” Katanya sambil tersenyum
“Sok misterius”
“Gini aja, kamu jenguk aku besok…”
“Di mana?”
“Rumah sakit Budi Agung, paviliun Kenanga… kamar Satu” Katanya sambil berlari dan memanjat pagar. Sepertinya dia benar-benar terlatih, bahaya kalau jadi maling!
“Hiro? Ngapain kamu di sini?” Nadia berteriak, segera kubekap mulutnya,
“Ini rumah sakit! Bukan Mal”
“Ops, sorry… aku kelepasan” Nadia cengengesan
“Kalian ngapain di sini?” Hiro balik nanya,
“Mau jenguk teman, kamu ngapain di sini?”
“Jagain sepupuku”
“Di kamar ini?”
“Yup!”
“Namanya Takeshi?” Tanyaku,
“Kok tau?”
“Emang dia sakit apa?” Aku balik nanya,
“Tuh anak kebanyakan makan yang pedes-pedes pas acara kemaren, jadi kena usus buntu sama diare dan besok mau dioperasi” Ujar Hiro polos. Nadia tak bisa menahan tawanya. Rain, si cowok hujan nongol di balik pintu sambil cengengesan
‘Terus… Ngapain pake mutusin teru-teru bozu tengah malam? Hujan-hujanan lagi… nggak takut sakitnya tambah parah?” Aku bertanya pada Rain.
“Tapi aku bersyukur bisa ketemu kamu malam ini” Ujarnya lagi
“Kenapa?” Tanyaku
“Karena ketika melihatmu, aku merasa sudah menemukan putri hujan yang aku cari selama ini”
“Maksudmu?”
“Maksudku, kamu mau nggak jadi pacarku?” Rain berlutut di depanku. Aku memandangi Nadia dan Hiro yang berdiri melihatku sambil tersenyum,
“Jawab dong Mil” Teriak Nadia.
“Sst… Ini Rumah sakit, bego!”
“Makanya cepetan jawab”
“Iya deh, asal kamu nggak hujan-hujanan lagi” Jawabku. Rain tersenyum, pipinya memerah. Tiba-tiba terdengar suara aneh yang diikuti sama bau yang aneh juga.
“Sorry tuan putri… Kayaknya pangeran mesti ke belakang” Rain ngacir ke WC sambil memegangi perutnya, Dasar cowok sableng!”
Oleh Rahmi Pratiwie
Subscribe to:
Posts (Atom)